Aksi Selam Anak Logam

0
342
Advertisement
idealoka.com – Sejumlah anak dengan telanjang dada menaiki kapal dan terjun bebas, mengejar kepingan logam. Orang menyebutnya Anak Logam. Siapa mereka?


Komander, Komunitas Anak Dermaga. Begitulah kadang komunitas ini dinamakan. Beberapa orang juga menamakannya Arlog, Arek-Arek Logam. Komander atau Arlog adalah sekumpulan anak-anak dan pemuda yang memiliki aktivitas sehari-hari yang unik. Mereka menyelam untuk mengejar uang kepingan logam yang dilemparkan ke laut. Fenomena ini dapat disaksikan di pelabuhan Ketapang, Banyuwangi. Para penumpang kapal biasanya melemparkan kepingan uang logam, lalu Arlog menyelam dan mengejar hingga mendapatkannya dengan cara menggigit kepingan uang logam yang mulai tenggelam. Tidak hanya uang logam. Uang kertas, permen, biskuit atau kue bungkusan lainnya kadangkala menjadi rejeki tersendiri bagi Arlog.
Begitu uang logam dilempar, mereka berenang berebutan dan menyelam untuk mengejar rejeki mereka. Digigitlah “rejeki uang logam” pemberian penumpang sekeping demi sekeping. “Rata-rata saya mendapatkan sekitar Rp1500 sampai Rp3000, mulai pagi sampai siang,” ujar Adi yang mengaku masih duduk di kelas 2 SD. Adi dan teman-teman sebayanya mewakili generasi Arlog yang masih tergolong bocah. Sementara ada juga generasi yang lebih dewasa dari mereka. Jumlah mereka mencapai ratusan. Menurut penduduk sekitar pelabuhan Ketapang, rata-rata anak-anak dari keluarga yang ada di sekitar pelabuhan adalah anak-anak logam. “Rata-rata anak-anak sini ya anak-anak logam termasuk anak saya,” tutur salah satu warga.
 
 
Nominal rupiah yang mereka dapatkan memang sedikit, karena lonjakan penumpang waktu itu belum begitu meningkat. Kecuali jika peak time (waktu ramai) dimana lonjakan penumpang meningkat tajam. Peak time atau waktu puncak lonjakan penumpang antara lain musim Lebaran, masa liburan, dan malam Tahun Baru. Rafli, bocah yang juga satu “profesi” dengan Adi, mengaku bisa mendapatkan sampai sekitar Rp50.000 dalam satu hari. “Kalau rame, saya bisa mendapatkan sampai sekitar Rp50.000,” ujar Rafli.
 
Dalam beraktivitas, tidak sedikit resiko yang mereka hadapi, misalnya baling-baling kapal yang bisa saja menggulung mereka, tumpahan atau rembesan solar dan pelumas dari mesin kapal, sampai pengaruh tekanan air laut yang bisa mengganggu bahkan merusak pendengaran telinga mereka. “Kalau tidak hati-hati, kita bisa saja terseret baling-baling kapal,” tandas Rafli. Selain itu, akibat terlalu seringnya terkena panas matahari dan air laut, warna rambut mereka berubah menjadi merah keemasan dan kulit mereka cenderung hitam. Aktivitas Komander atau Arlog menjadi satu kisah tersendiri dalam kehidupan kelautan Banyuwangi. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here