Mendulang Uang dari Pelepah Pisang

0
245
Advertisement

idealoka.com – Senyum malu gadis desa dan tangan terampil terlihat diantara himpitan alat tenun dari kayu. Bukan benang yang mereka tenun, melainkan serat pelepah pisang.

Unik, langka, dan eksotis. Begitulah kira-kira ungkapan yang pantas terlontar setelah melihat kerajinan tenun dari serat pelepah pisang Abaca. Nama pisang Abaca mungkin asing di telinga kita. Tanaman asli kepulauan Phillipines dan Mindanao ini memang memiliki serat yang tipis tapi sangat kuat. Abaca termasuk keluarga pisang-pisangan tetapi tidak menghasilkan buah yang bisa dikonsumsi. Karena tidak mudah putus, serat Abaca banyak dimanfaatkan untuk bahan baku tali tambang, kerajinan dan mebel. Bahkan, serat Abaca menjadi bahan baku campuran mata uang kertas.

Advertisement

Sebuah usaha kerajinan yang terletak di Desa Kemiren Kec Glagah sekitar lima kilometer barat kota Banyuwangi, menekuni tenunan serat Abaca ini. Semua pekerja yang berjumlah sekitar enam orang adalah penenun wanita yang masih muda dan warga sekitar. Karakter wanita yang telaten dinilai cocok menekuni usaha ini. Salah seorang pekerja senior, Yanti Dwi Lestari, menuturkan kerajinan serat Abaca milik majikannya, Setiawan Subekti, itu sudah berdiri sejak delapan tahun yang lalu. Saat itu, jumlah penenun mencapai 12 orang namun kini tinggal separo karena mereka ada yang tidak telaten atau berkeluarga. “Budidaya pohon pisang Abaca ini ada di Desa Bayu Kecamatan Songgon. Kita hanya menerima seratnya dan kita tenun,” ujar wanita yang bekerja sejak usaha tenun serat Abaca itu didirikan.


 

 

 

 

 

 

Serat Abaca yang dikirim biasanya sebanyak 25 kilogram untuk digunakan sebagai bahan baku selama dua minggu. Menurut Yanti, proses pertama pembuatan tenunan adalah memasang benang dan memasukkannya dalam alat tenunan. Setelah itu satu per satu sehelai serat disisipkan dan ditenun hingga menjadi satu produk tenunan. Hasil tenunan biasanya berupa taplak meja, tirai, tatakan makan dan bantalan kursi. Yanti mengaku, dalam sehari seorang pekerja bisa menghasilkan enam buah tatakan makan, tiga taplak dan satu tirai. Harga jual hasil tenunan terbilang murah.

“Tatakan makan Rp12.500, taplak meja Rp25 ribu, bantalan kursi Rp50 ribu dan tirai Rp150 ribu,” tutur Yanti. Sejumlah perusahaan atau perseorangan dari berbagai kota sering memesan tenunan serat Abaca seperti dari Jakarta, Surabaya, Bali dan lain-lain. Bahkan wisatawan asing mesti mampir untuk membeli diantaranya dari Amerika ,Australia , dan Belanda. Kerajinan tenun serat Abaca juga sudah mengikuti berbagai pameran di kota-kota besar.

Sayangnya, upah para pekerja ini sangat rendah. Untuk satu tatakan meja, taplak, bantalan kursi dan tirai, masing-masing diberi upah Rp2.000, Rp4.000, Rp10 ribu, dan Rp15 ribu.

Salah seorang pekerja yang masih gadis, Sumiyati, mengaku baru sebulan bekerja sebagai penenun serat Abaca. Meski penghasilannya tak seberapa, gadis lugu ini mengaku senang karena bisa mencari uang sendiri. “Pekerjaan yang paling sulit saat memasang benang pada alat tenun. Kalau ada benang yang menyisipkannya salah, ya dibongkar lagi,” katanya. Sumiyati bersama penenun yang lain bekerja sejak jam 7 pagi sampai jam 4 sore. Sedangkan siangnya, mereka istirahat. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here