SENIMAN NYENTRIK (2): Terapi Orang Sakit Jiwa dengan Budaya

0
138
Advertisement

Selain berkesenian, seniman ludruk ini merawat puluhan orang stress, gila, dan pecandu narkoba. Bagaimana terapinya?

idealoka.com – Selain melestarikan seni dan budaya Jawa, Sri Wulung Jeliteng, 58 tahun, juga merawat puluhan orang stress, gila, dan pecandu narkoba. Ia mendirikan Padepokan Among Budaya Sastro Loyo di Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Selain jadi ajang ekspresi seni budaya, padepokan yang hanya berupa rumah dan sejumlah kamar serta teras itu juga jadi tempat ‘penyembuhan’ mereka yang mentalnya sedang bermasalah.
Sebagaimana keturunan orang-orang Majapahit, darah seni dan budaya pada sosok Wulung sangat kental. Berbagai macam seni tradisional ditekuninya baik ludruk, karawitan, hingga perwayangan atau perdalangan.
 
Di teras rumahnya, Wulung mendirikan pentas atau panggung berukuran 7X5 meter untuk latihan kesenian.“Setiap hari Selasa dan Jum’at kami latihan sinden, karawitan, dan pedalangan. Gratis tidak dipungut biaya,” ujar pria yang juga dalang ini. Ia pun membuat kelir atau layar pementasan wayang secara sederhana dan berukuran lebih kecil dibanding layar pementasan wayang umumnya.
Selain kesibukannya among (melestarikan) budaya, Wulung juga among(merawat) orang dengan gangguan jiwa dan pecandu narkoba. Kini ada 43 orang yang dirawat dan diantaranya pecandu narkoba baik dari Jawa Timur dan luar Jawa Timur. Mereka ditempatkan dalam 12 kamar yang berjajar dirumahnya. “Selain dibawa keluarganya kesini, mereka juga saya temukan di jalan atau dibawa Satpol PP lalu diserahkan ke saya,” ujarnya.
Dalam merawat orang-orang itu, Wulung hanya melakukan pendekatan manusiawi. “Bagaimana jelek itu bisa jadi baik. Kita dekati bagaimana cara dan solusinya,” ujarnya. Mereka diperlakukan layaknya orang waras. “Bangun pagi diajak olahraga, lalu mandi dan sarapan. Siang makan lagi lalu tidur. Sore bangun diberi hiburan musik dan menonton televisi,” katanya.
Kemudian malam diberi makan nasi dan makanan ringan sampai tidur kembali. Bahkan terkadang mereka diajak jalan-jalan di lingkungan sekitar. “Agar mereka tahu dunia luar, tidak suntuk hanya di kamar saja,” katanya.
Orang yang dirawat Wulung bermacam-macam penyebab dan tingkat gangguan jiwanya. “Harus tahu penyebabnya apa. Stress benenaran atau kesurupan, pernah jatuh, kebanyakan ilmu, atau karena narkoba,” ucapnya.
Untuk pasien dengan tingkat emosional yang tinggi atau anarkis, Wulung terpaksa mengurungnya di dalam kamar namun tetap diajak komunikasi. Sesekali terdengar suara gaduh dari dalam rumahnya. “Dengarkan, itu pintu kamar didobrak sampai jebol,” katanya. Biasanya, pasien yang baru datang masih sangat labil karena belum terbiasa dengan lingkungan setempat.

 

Wulung yang dibantu 16 orang dengan sabar dan telaten membimbing mereka sampai menjadi orang normal dan mandiri. “Semua kami ajari. Kami suruh mandi dan makan sendiri,” ujarnya. Waktu yang dibutuhkan untuk sembuh juga berbeda-beda, bisa bulanan bahkan tahunan. (bersambung)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here