Ada Apa di Jalur Pendakian Kuno Situs Gunung Penanggungan?

0
499
Advertisement
Lama tertutup, jalur pendakian kuno di situs Gunung Penanggungan ditemukan. Untuk apa dan ada apa saja di sekitar jalur pendakian kuno ini?
idealoka.com – Tim Ekspedisi Universitas Surabaya (Ubaya) menemukan jalur pendakian kuno situs Gunung Penanggungan tahun 2015 lalu. Jalur atau jalan pendakian kuno ini termasuk maha karya orang-orang zaman dulu.
Tim ekspedisi mendokumentasikan jalur atau jalan pendakian kuno yang selama ini tertutup vegetasi gunung yang merupakan kawasan cagar budaya tersebut. Tim merekamnya setelah sebagian besar lahan gunung terbakar pada Agustus sampai Oktober 2015 lalu sehingga jalur kuno yang selama ini tertutup vegetasi bisa terlihat jelas. 
Dok. Tim Ekspedisi Ubaya

 

Dari hasil rekaman kamera video melalui drone, tim mendokumentasikan dua jenis jalur kuno. Pertama, jalur atau jalan dari tumpukan batu berbentuk melingkar atau mengitari badan gunung. “Ada dua jalur melingkar baik di bawah dan di bagian atas sebelum puncak gunung,” kata salah satu anggota tim ekspedisi, Luthfi Ismail, April 2016. 
Kedua, tim menemukan jalur berbentuk zig zag yang berhubungan dengan jalur melingkar tadi. “Jalur zig zagini terdapat di bawah sampai puncak gunung,” katanya. Jalur melingkar dan zig zag itu didesain sedemikian rupa dan relatif lebih aman dibanding jalur pendakian yang digunakan pendaki selama ini. Jalur yang digunakan pendaki selama ini cenderung lurus dan menanjak, tidak zig zag.
Dok. Tim Ekspedisi Ubaya
Ketua Tim Ekspedisi Ubaya Kusworo Rahadyan mengatakan perlu penelitian untuk mengetahui kapan dan bagaimana jalur kuno itu dibuat. “Kami bukan tim peneliti, kami hanya tim ekspedisi. Jadi kami tidak tahu pada abad berapa jalur itu dibuat,” kata. 
Jalur kuno itu diperkirakan dibuat sebagai jalan untuk menuju puncak dengan tujuan ritual. “Di sekitar jalur tersebut memang terdapat punden berundak dan goa pertapaan,” kata Kusworo. Dalam ekspedisi sejak 2012 sampai 2016, Tim Ekspedisi Ubaya menemukan 134 situs baik berupa candi, punden berundak, gapura, prasasti, goa, dan jalur kuno. 
 
Dalam beberapa kitab kuno Jawa disebutkan bahwa Gunung Penanggungan yang dulu bernama Gunung Pawitra merupakan gunung suci bagi masyarakat Hindu dan Budha. Pawitra dipercaya sebagai puncak Gunung Mahameru yang dipindah dari India ke Jawa.
Karena kesakralannya, Pawitra jadi tempat pertapaan para resi. Pawitra diperkirakan sudah jadi tempat ritual sejak abad ke-10 sesuai angka inskripsi tertua yang pernah ditemukan dalam prasasti di Penanggungan yang menunjukkan abad ke-10 Masehi. (*) 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here