Penampakan Jalur Pendakian Kuno Situs Gunung Penanggungan

0
666
Advertisement
Lama tertutup, jalur pendakian kuno di situs Gunung Penanggungan ditemukan. Jalan ini dibangun beberapa abad silam. Bagaimana bentuknya?
idealoka.com – Tim Ekspedisi Universitas Surabaya (Ubaya) menemukan jalur pendakian kuno situs Gunung Penanggungan tahun 2015 lalu. Salah satu anggota tim ekspedisi, Luthfi Ismail, mengatakan jalur atau jalan pendakian kuno ini termasuk maha karya orang-orang zaman dulu.
Dok. Tim Ekspedisi Ubaya
“Jalan tersebut dibangun dan ditata sedemikian rupa dari tumpukan batu. Setiap ada cekungan atau jurang, dibuat dam atau tanggul penahannya dulu,” katanya, 5 April 2016. Dengan konstruksi seperti itu, jalan dengan lebar 1,5 meter hingga 2 meter itu bisa tahan dari erosi. “Tidak tergerus air sebab kalau kena air, airnya merembes. Jadi bisa tahan berabad-abad,” ujarnya. 
Orang yang berjalan juga tidak terlalu susah payah karena kontur jalan dibuat rata dengan tumpukan batu layaknya jalan makadam. “Kita jalannya enak karena jalannya rata dan tidak menanjak,” katanya. Belum diketahui berapa panjang jalur tersebut. Namun jika mengitari badan gunung bisa diperkirakan panjangnya ribuan meter. 
Ketinggian atau ketebalan jalan dan tanggul penahan dari tumpukan batu itu bervariasi mulai dari 1 meter hingga lebih dari 3 meter. “Ketinggian tanggulnya ada yang lebih dari 3 meter karena di bawahnya ada cekungan atau jurang,” katanya. 
Tim Ekspedisi Ubaya mendokumentasikan jalur atau jalan pendakian kuno yang selama ini tertutup vegetasi gunung yang merupakan kawasan cagar budaya tersebut. Tim merekamnya setelah sebagian besar lahan gunung terbakar pada Agustus sampai Oktober 2015 lalu sehingga jalur kuno yang selama ini tertutup vegetasi bisa terlihat jelas. 
Dok. Tim Ekspedisi Ubaya
Dari hasil rekaman kamera video melalui drone, tim mendokumentasikan dua jenis jalur kuno. Pertama, jalur atau jalan dari tumpukan batu berbentuk melingkar atau mengitari badan gunung. “Ada dua jalur melingkar baik di bawah dan di bagian atas sebelum puncak gunung,” kata Luthfi. 

Kedua, tim menemukan jalur berbentuk zig zagyang berhubungan dengan jalur melingkar tadi. “Jalur zig zag ini terdapat di bawah sampai puncak gunung,” katanya. Jalur melingkar dan zig zag itu didesain sedemikian rupa dan relatif lebih aman dibanding jalur pendakian yang digunakan pendaki selama ini. Jalur yang digunakan pendaki selama ini cenderung lurus dan menanjak, tidak zig zag. (*) 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here