DAWET JABUNG (2): Dawet yang Membawa Untung

0
264
Advertisement

Selain jadi kekayaan kuliner, dawet jabung juga membawa untung. Meski tak seberapa, usaha penjualan dawet jabung jadi penggerak ekonomi rakyat.
idealoka.com – Dawet jabung dengan warungnya yang khas adalah entitas ekonomi tersendiri. Ia hadir dengan tampilan yang khas dan unik yang membuat siapapun yang pernah menikmatinya selalu ingin kembali untuk mengulang kekhasan suasana.

 

Disebut dawet jabung karena dawet ini berasal dari Desa Jabung, Kecamatan Mlarak, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Kawasan ini terletak sekitar 10 kilometer sebelah timur alun-alun Ponorogo. Sejumlah warung dawet berada di sekitar perempatan yang masuk Desa Jabung, Mlarak.
Setiap warung luasnya tak lebih dari 5×5 meter. Umumnya di warung dawet jabung tersedia satu buah angkring yang menjadi ciri khas penjual dawet, tiga buah meja yang ditata seperti huruf U melingkari angkring. Juga dilengkapi kursi di depannya. Di tiap meja, selalu tersedia camilan berupa kacang goreng dan gorengan lain seperti pisang goreng, bakwan, tempe atau tahu goreng.
Segar dan manisnya dawet akan semakin nikmat saat dipadukan dengan gorengan atau dicemplungi kacang. Tentu saja, paduan ini menjadi keasyikan tersendiri untuk dilewati sambil ngobrol ngalor ngidul merekatkan tali silaturahmi dengan kawan, kerabat atau sanak famili.
Advertisement

 

Saat ini, dengan banderol harga sekitar Rp2.500 per mangkuk, dawet jabung menjadi salah satu kuliner murah meriah namun menyenangan bagi siapapun yang menikmatinya. Tak perlu risau dengan kondisi kantong sebab meski membawa banyak kawan, kocek tak sampai harus kering hanya gara-gara mentraktir semua kawan yang diajak.
Bagi penjualnya, harga yang dipatok tentunya sudah dihitung termasuk keuntungannya. Dan harga yang relatif terjangkau ini membuat pelanggan mereka terus dan terus bertambah. Tidak hanya dari Ponorogo, dari luar kota pun banyak yang menjadi pelanggan mereka.
“Banyak warga luar Ponorogo yang menyempatkan diri datang ke warung kalau pas lewat Ponorogo atau mengunjungi keluarganya di sini,” ujar Endang, pedagang dawet yang lain.

 

Meski dijual dengan harga yang miring, namun jarang sekali ditemui kabar pedagang dawet jabung yang merugi. Mereka mengaku dagangannya selalu habis. “Selalu kembali modal dan ada untung,” ujarnya.
Sebagai sebuah usaha, dawet jabung memang cukup menjanjikan. Bahkan tanpa bantuan modal dari perbankan atau pemerintah, para pemilik dawet jabung pun mampu bertahan. Bahkan saat diterpa badai krisis ekonomi seperti tahun 1998 lalu. Benar-benar bisa diandalkan sebagai sandaran ekonomi warga.
Sejumlah sumber menyebutkan, sebelum berdiri banyak warung puluhan tahun lalu, dawet jabung lebih terkenal sebagai dawet yang dijual secara berkeliling. Yaitu dengan angkring atau pikulan yang terbuat dari rotan. Mereka berjalan dari satu daerah ke daerah lain dengan orbit edar masing-masing. Semua pedagangnya berasal dari Desa Jabung.
Karena dengan pikulan, maka pada masa tersebut para pedagang dawet jabung adalah kaum lelaki. Itu karena mereka kuat mengangkat pikulan sambil berjalan menuju desa-desa lain. Mereka juga membawa serta gorengan sebagai pelengkap.
Namun karena pergeseran zaman, saat ini pedagang dawet keliling sudah jarang ditemukan. Yang ada sekarang adalah warung-warung yang memajang penjual dawet yang berparas ayu sebagai nilai tambah dalam berdagang. Dan tidak berbeda dengan masa lalu, hingga kini dawet jabung tetap menjadi idola untuk dikunjungi. (bersambung)
Penulis:
Dili Eyato
Jurnalis dan fotografer di Ponorogo, Jawa Timur
dilieyato.foto@yahoo.com 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here