Dari Goa Ini Terdengar Suara Gong?

0
126
Advertisement
Dibalik keindahan dan kemegahan stalaktit dan stalakmitnya, goa yang satu ini menyimpan misteri. Masyarakat sering mendengar suara gamelan termasuk gong dari dalam goa, benarkah?
idealoka.com – Sebagai daerah yang dilintasi bentang alam karst Pegunungan Sewu, Kabupaten Pacitan menyimpan keindahan alam yang khas terutama goa, lembah, pantai, ngarai, dan bukit. Pegunungan Sewu terbentang dari Gunung Kidul, Yogyakarta, hingga Pacitan dan Tulungagung, Jawa Timur. Karst adalah bentuk bentang alam khas yang terjadi akibat proses pelarutan pada suatu kawasan batuan karbonat.

 

Pegunungan Sewu memiliki bentang alam karst yang sangat unik berupa bentukan di atas permukaan atau eksokarst dan bentukan di bawah permukaan atau endokarst. Bentukan di atas permukaannya memunculkan kurang lebih 40 ribu bukit dan bentukan di bawah permukaannya berupa lembah, telaga, dan goa. Diperkirakan ada 119 goa yang terbentuk dari karst Pegunungan Sewu yang memiliki stalaktit dan stalakmit serta dialiri aliran sungai bawah tanah.
Salah satu yang fenomenal adalah Goa Gong di Dusun Pule, Desa Bomo, Kecamatan Punung, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Jaraknya sekitar 37 kilometer ke barat dari pusat kota Pacitan.  
Salah satu pemandu wisata Goa Gong, Adi Haryono, menjelaskan berbagai tempat atau benda yang ada di dalam goa baik mata air yang membentuk sendang atau kolam, stalaktit, dan stalakmit. “Di Goa Gong ini ada tujuh ruangan dan empat sendang,” kata Adi. 

 

Ketinggian atau panjang stalaktit dan stalakmit Goa Gong bervariasi mulai kurang dari dua meter hingga lebih dari lima meter. Stalaktit dan stalakmit berukuran besar tampak megah ditambah dengan kualitas batuan yang berusia tua dan sudah menjadi batu marmer bahkan sudah ada yang menjadi kristal dan tembus cahaya.
Menurut cerita, konon disebut Goa Gong karena dari dalam goa sering terdengar suara gamelan termasuk suara gong sehingga goa tersebut dikenal angker dan jarang dijamah masyarakat. Dung…dung…dung…, Adi memukul salah satu stalaktit dengan genggaman tangan untuk membuktikan bunyinya.
Setelah jadi tempat wisata, stalaktit dan stalakmit yang bisa menimbulkan suara seperti gong itu dinamakan selo citro tirto agung dan senden bumi. Sedangkan sendang pertama hingga keempat diberi nama sendang kamulyan (kemuliaan), larung nista (membuang sial), panguripan (penghidupan), dan jampiraga (kekuatan raga).
Advertisement

 

Sesuai cerita turun temurun, Goa Gong ditemukan dua sesepuh Desa Bomo yakni mbah Noyosoemito dan Joyorejo tahun 1924. “Saat itu terjadi kekeringan berkepanjangan dan dua orang sesepuh desa ini bertapa dalam goa dan menemukan empat sendang ini,” tutur Adi.
Meski sudah ditemukan tahun 1924 namun goa ini baru dikelola warga desa sebagai tempat wisata tahun 1995. Menurut buku panduan wisata Goa Gong yang ditulis cucu mbah Noyosoemito, Wakino, setelah kakeknya meninggal, goa itu lama tidak dijamah orang. Akhirnya pada 5 Maret 1995, pihak keluarga dan masyarakat mencari keberadaan goa. “Saya dapat cerita dari ayah saya lalu saya dengan beberapa warga mencari goa yang pernah ditemukan kakek,” ujar Wakino dalam buku yang berbentuk memoar tersebut.

 

Menurutnya, mbah Noyosoemito dan Joyorejo menghabiskan tujuh ikat daun kelapa yang dibakar sebagai penerangan untuk masuk goa. Empat mata air dalam sendang atau kolam yang ditemukan itu akhirnya digunakan masyarakat untuk kebutuhan sehari-hari.
Stalaktit dan stalakmit di Goa Gong terbilang sangat tua. Ini terlihat dari kualitas batu kapur yang mengeras dan mengkilat menjadi batu marmer dan bahkan ada yang seperti kaca atau kristal.
Untuk mendukung potensi wisata Goa Gong, pada tahun 1996 Pemerintah Kabupaten Pacitan membangun fasilitas penunjang mulai dari tangga jalan dan pagar, lampu penerangan, hingga mesin pendingin ruangan.
 
Selama menyusuri goa anda harus mengatur napas karena jarak tempuhnya yang panjang, sekitar 300 meter. Selain itu pasokan oksigen yang terbatas dan tingkat kelembaban udara yang tinggi. Rute mengelilingi Goa Gong dibuat satu arah searah jarum jam agar antar pengunjung tidak bertabrakan.

Di samping pintu masuk dan pintu keluar goa, anda akan melihat prasasti berisi nama-nama orang yang menemukan goa. Di prasasti dari batu marmer dengan tulisan berukir itu tertera nama mbah Noyosoemito dan Joyorejo sebagai penemu goa tahun 1924. Selain itu juga tertera delapan nama warga yang menemukan kembali goa tersebut tahun 1995 setelah lama tidak dijamah. Prasasti ini ditandatangani Kepala Desa Bomo Suratmi tahun 1999. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here