Ekspedisi Luweng Jaran (2) : Goa Vertikal yang Menantang

0
147
Advertisement

idealoka.com – Destinasi wisata ekstrem ini bernama goa Luweng Jaran. Lokasinya di Desa Jlubang, Kecamatan Pringkuku, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Untuk menelusurinya dibutuhkan persiapan, ketrampilan khusus, dan peralatan memadai.
Saya bersama Federasi Panjat Tebing Indonesia Cabang Pacitan, Mahasiswa Islam Pecinta Alam Unmuh Ponorogo, Mahasiswa Ekonomi UNS Solo, Badan Penanggulangan Bencana Daerah Pacitan memasukinya tahun 2012 silam.
Tim penelusur gua yang terdiri dari lima orang termasuk saya berkoordinasi di atas pintu masuk LuwengJaran. Suhu badan saya meningkat perlahan. Jantung pun berdetak lebih cepat daripada biasanya. Saya deg-degan karena sebentar lagi harus masuk luweng. Penelusuran gua merupakan pengalaman pertama saya.
Koordinasi berlangsung sekitar 15 menit. Satu persatu tim penelusur gua, yakni saya; perwakilan dari Federasi Panjat Tebing Indonesia Cabang Pacitan; mahasiswa pecinta alam dari Universitas Sebelas Maret Solo; dan Universitas Muhammadiyah Ponorogo mulai melakukan persiapan masuk gua di bawah saluran sungai ‘mati’.
Perlengkapan seperti coverall (pakaian khusus untuk penelusuran gua), satu set SRT (single rope technique), sepatu boot, sarung tangan, helm, dan headlamp mulai dipakai. Dua di antara anggota tim penelusur gua (caver), yakni Roma Haqni dan Tony Syaifulta mendekat ke pintu masuk luweng. 

Mereka memasang tali khusus yang biasa disebut kernmantle untuk menuruni gua. Salah satu ujung tali dikaitkan dahan pohon yang menjulur ke dekat pintu masuk luweng. Sekitar 30 menit kemudian, Roma masuk pintu pertama yang berupa celah bebatuan kapur dengan lebar sekitar 1 meter.
Dia membuat jalur untuk masuk ke sumuran pertama  Alurnya miring dengan kedalaman 12 meter. “Free,” kata dia setelah tiba di dasar sumuran pertama. Kata itu diucapkan sebagai isyarat bahwa kernmantle yang menjulur bebas dari pintu masukluweng hingga dasar sumuran pertama bisa digunakan anggota tim lain.
Saya dan anggota tim secara bergantian turun dengan memanfaatkan tali sebagai alat bantu. Setelah seluruhnya tiba di dasar sumuran pertama, kami berjalan menuju ke bibir sumuran kedua. Kondisinya gelap.
Lampu senter dan headlamp menjadi andalan penerangan untuk melewati lorong sempit antara dasar sumuran pertama dengan bibir sumuran kedua. Panjangnya 10 meter.
Tiba di bibir sumuran kedua, saya bengong. Saya merasa berada di suatu gedung luas yang gelap. Langit-langitnya terlihat jauh dari tempat saya berdiri. Kilau stalagtit dan stalagmit kian nampak ketika disirami cahaya lampu. Bentuknya tak beraturan.
Saat nafas masih ngos-ngosan dan keringat mengucur, saya memperhatikan pemandangan itu. Saya tak habis pikir di bawah saluran sungai terdapat potensi yang eksotik seperti ini. Suasananya pun tenang. Saya pun merebahkan badan di atas batu dengan tatapan mata terus mengarah ke dinding dan langit-langit gua. 
Kekuatan fisik dan mental benar-benar diuji ketika menyusuri Luweng Jaran. Untuk menuju dasarnya harus merambat dengan menggunakan seutas tali. Tony Syaifulta, salah seorang angota tim beranjak dari duduknya. Ia menuju titik penurunan di bibir sumuran kedua. Satu SRT set yang melekat di badannya dikaitkan ke kernmantle. Ia meluncur dan dalam sekejap tubuhnya menghilang di kegelapan gua. ‘’Free,’’ begitu kata pemuda berambut gondrong itu beberapa detik kemudian. Ia telah berada di dasar sumuran kedua.  
‘’Untuk yang pertama turun, tolong nanti jaga tali di bawah,’’ ujar Roma.  Dari hasil koordinasi, Roma mendapat tugas bersiaga di bibir sumuran kedua.

Advertisement

Setelah itu, secara bergantian kami merambat turun dengan mengikuti kermantle yang melekat kuat pada SRT set yang dikenakan. Perlahan tapi pasti, kami berhasil mendarat mulus di dasar sumuran kedua. Setelah tali terlepas, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki menyusuri alur sungai di bawah permukaan bumi tersebut. Komunikasi antara tim yang nyemplung dan yang berjaga menggunakan handy talky.  
Gelap, lembap, dan sunyi. Begitulah kondisi di dasar luweng. Dengan penerangan senter dan headlamp, batu-batu di sana terlihat kokoh. Bentuknya tidak teratur seperti halnya sungai di atas permukaan bumi. Alurnya pun tidak  rata.
Selain itu, ada beberapa titik yang berbentuk layaknya perbukitan. Lumpur juga melekat di bebatuan tersebut. Setelah melintasi bukit ada pemandangan yang indah. Beberapa dasar gua tersekat-sekat seperti kolam ikan dan terisi genangan air jernih.
Tak jauh dari situ, ada sejumlah stalakmit yang masih hidup alias bisa tumbuh. Batu kapur itu berwarna putih dan berada di dekat deretan kolam batu tersebut. ‘’Ini masih alami dan perlu dijaga agar bisa tetap tumbuh,’’ tutur salah seorang anggota tim.
Selain itu, ada juga stalakmit menembus dinding gua. Diameternya sekitar 1 meter dengan juntaian yang indah. Melihat keindahan itu rasa lelah setelah menuruni sumuran kedua tak lagi terasa. Kaki ingin terus melangkah untuk bisa menikmati eksotisme luweng yang berjarak sekitar 20 kilometer dari Pacitan kota ini.  

Tim yang menelusuri gua kembali melangkahkan kakinya perlahan. Sepuluh pasangan mata terus menggerayangi di sekelilingnya. Kekaguman kembali muncul. Itu setelah melihat salah satu ornamen di dinding gua berkilauan saat cahaya lampu senter maupun headlamp yang dibawa anggota tim penelusur menyorotnya. (*)
Penulis dan fotografer:

Nofika Dian Nugroho
(Jurnalis di Madiun dan sekitarnya)

nofika.nugroho@gmail.com 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here