Ekspedisi Luweng Jaran (3) : ‘Istana’ Stalaktit dan Stalakmit Kristal

0
72
Advertisement
ideloka.com Susah payah menuruni sumuran luweng akhirnya terbayar. Eksotisme bebatuan di perut bumi terpampang indah.Tiba-tiba saja pria itu mematikan lampu senternya. Spontan saja, bagian batu yang sebelumnya kena sorotan cahaya tak lagi berkelip. Rasa penasaran pun semakin muncul. Maka, dia sengaja mematikan handlamp-nya. Ternyata sama, bagian batu tidak berkilau. ‘’Kilaunya terlihat saat kena cahaya,’’ tuturnya.
Puas menikmati keindahan bagian gua itu, tim terus melangkah maju. Kali ini, menuruni bebatuan yang basah dan tergenangi air. Di sana, terlihat stalaktit yang menembus dinding gua. Juga, stalakmit yang menjuntai indah. Warnanya putih dengan permukaan tidak rata dan banyak lubang di sana-sini.
Meskipun kondisi di dalam gua semakin lembap, para anggota tim ekspedisi tetap betah berlama-lama di sana. Apalagi, bebatuan di dalamnya seolah tak berhenti menyajikan keindahan. Ada beberapa yang berdiri tegak layaknya tugu. Tingginya bervariasi. Mulai 1,5 meter, satu meter, hingga 10 sentimeter. Selain itu, ada pula bebatuan yang berlubang besar dengan guratan alami nan eksotis.

Tri Widiyanti, anggota tim penelusuran luweng dari UNS Solo cukup tertarik dengan batu berlubang tersebut. Tatapan matanya terus mengamati benda di depannya. Saat itu, dia melihat lubang dengan diameter sekitar 50 sentimeter itu tembus di samping batu. Kekagumannya juga karena tekstur yang tidak rata tapi mengkilap seperti baru saja disemprot antigores. Padahal, terkena rembesan air dari alur sungai di atas permukaan bumi.
Lembapnya udara dan ketatnya pakaian, membuat saya merasa panas. Keringat mengalir deras. Nafas pun kuhela sambil mengusap keringat di wajah. Dalam keadaan seperti ini saya tetap memperhatikan bebatuan di luweng. Mulai dari yang berada di dinding, dijadikan tempat duduk, dan berada di bawahnya.
Sayup-sayup terdengar tetesan air. Sorotan senter dan headlamp berusaha mencari sumber suara di keheningan gua tersebut. Ternyata di sekitar tempat istirahat itu genangan jernih yang luas. Para anggota tim ekspedisi pun tertarik melihatnya lebih dekat. Kaki kembali melangkah untuk menuruni benjolan batu besar yang dijadikan alas duduk.
Semakin dekat dengan genangan air, tetesannya lebih terdengar jelas. Air itu menetes dari bebatuan yang berada di atas genangan. ‘’Begitu bening,’’ tutur Roy, salah seorang anggota tim.  

Pemuda itu memasukkan kedua kakinya yang tak terbungkus boot. Dia pun tersenyum sembari membungkukkan badannya untuk mencelupkan tangannya ke dalam air. Di titik genangan air itu Roy betah berlama-lama.  Stamina yang terus turun karena tubuhnya tak terlindung coverall seolah tak dihiraukannya. (*)
Advertisement

Penulis dan fotografer:

Nofika Dian Nugroho
(Jurnalis di Madiun dan sekitarnya)


nofika.nugroho@gmail.com 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here