Ekspedisi Luweng Jaran (4) : Adu Nyali di Perut Bumi

0
75
Advertisement
idealoka.com – Menyerah demi keselamatan. Itulah yang akhirnya kami pilih ketika sedang menikmati  keindahan perut bumi Desa Jlubang, Kecamatan Pringkuku, Pacitan. Di saat sedang asyik menikmati indahnya bebatuan, tiba-tiba saja Hendro Subekti ketua tim teknis ekspedisi merasakan sesak nafas. Kepalanya pun pening dan mata mulai berkunang-kunang. Dia lantas bergegas dan berjalan berbalik arah. ‘’Kita harus segera kembali. Oksigen mulai tipis dan ini berbahaya,’’ kata dia.
Tipisnya oksigen itu menurut dia dipengaruhi beberapa faktor. Seperti, kondisi di dalam gua sudah banyak air dan lumpur. Dengan keadaan itu tabung oksigen yang kami bawa tidak mencukupi untuk membantu pernafasan selama di dalam gua. Karena itu, tim akhirnya memutuskan keluar dari perut bumi tersebut.
Kami setengah berlari menuju ke titik pendaratan di sumuran kedua yang dilalui sebelumnya. Tapi, medan yang dilalui berbeda dari rute masuk. Kali ini, melintasi medan yang lebih sulit. Bukit batu yang dipenuhi lumpur harus dilewati. Tapi, para tim ekspedisi tetap semangat apalagi keindahan yang lain tersaji di sana.

 

Di bukit itu banyak ditemui batu yang indah. Puluhan batu berdiri menjulang bak pepohonan di ladang yang ada di atas permukaan bumi.  Tidak hanya itu, stalagmit juga menggantung dengan indah. Tapi, anggota tim tidak bisa berlama-lama menikmati keindahan itu. Kakinya terus melangkah maju di medan yang dipenuhi lumpur tersebut.
Dengan ngos-ngosan akhirnya tim tiba di lokasi tergantungnya Kernmantle. Air mineral kembali ditenggak dengan maksud agar tidak dehidrasi. Tidak itu saja, gula merah yang dibawa salah seorang tim juga dimakan. Maksudnya, untuk meningkatkan energi di dalam tubuh. Setelah istirahat dirasa cukup, empat anggota tim yang baru saja menyusuri gua siap naik ke atas bibir sumuran kedua. 
‘’Kami yang di bawah akan naik,’’ kata tim di bibir sumuran kedua melalui handy talky. ‘’Oke’’ begitu jawab anggota tim yang bersiaga di bibir sumuran kedua.  
Penelusuran Luweng Jaran terpaksa kami tuntaskan lebih awal. Sesaknya udara di dalam gua vertikal menjadi alasannya. Kepanikan pun pecah.
Satu set SRT yang melekat di coverall dikaitkan ke Kernmantle. Secara perlahan, satu persatu anggota tim penelusur akhirnya naik mengikuti alur tali yang menggantung. Kedalaman sumuran kedua ini mencapai 17 meter.

 

Saya mendapatkan giliran naik kedua. Ketika mencapai separuh perjalanan saya merasa putus asa. Dada sangat sesak dan keringat dingin bercucuran di badan yang terbungkus perlengkapan caving. Kaki dan tangan terasa kaku. “Jangan dipaksakan dan istirahat sejenak,’’ kata anggota tim yang mengetahui kondisi saya dari bibir sumuran kedua.
Saya pun pasrah. Seluruh tubuh kulemaskan dan hanya menggantung pada tali. Tiga menit kemudian, keadaan mulai membaik. Perlahan saya mulai meneruskan perjalanan pada seutas tali. Ketika nyaris tiba di bibir sumuran kedua, dua orang anggota tim ekspedisi menjulurkan tangannya kepada saya. Mereka membantu menarik tubuh saya yang sudah sangat lemas.
Selang 45 menit kemudian, lima anggota tim penelusur berhasil mencapai bibir sumuran kedua. Sebelum berjalan menuju ke dasar sumuran kesatu para tim beristirahat. Ada yang hanya duduk sembari minum air mineral dan ada pula yang terlentang berlasakan batu. Setelah stamina dirasa pulih, para tim kembali menaiki sumuran pertama.
Advertisement

 

‘’Oke, mantap dan tidak ada kendala yang terjadi. Tim memang harus keluar karena kondisi di dalam tidak mendukung’’ kata Johan Perwiranto, ahli gua gua yang ikut memantau penelusuran luweng yang kami lakukan.

 

Dia juga menjabat tangan para tim yang baru keluar dari Luweng Jaran. Dengan menipisnya kandungan oksigen di dalam luweng, maka penurunan di hari kedua ekpedisi hanya sampai di bibiran sumuran kedua. Panjang luweng yang berhasil kami susuri 1,5 kilometer. (*) 
 
 
 
Penulis dan fotografer:
 

 

Nofika Dian Nugroho
(Jurnalis di Madiun dan sekitarnya)
nofika.nugroho@gmail.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here