Ekspedisi Luweng Jaran (5) : Misteri Goa Tak Berujung

0
299
Advertisement

 

 

Advertisement

 

 

 

idealoka.com – Sejumlah penelusur gua (caver) asing dan lokal sudah menapakkan kaki di goa Luweng Jaran. Namun kedalaman goa vertikal ini masih menjadi misteri.

Tiga warga asing berjalan di kawasan hutan Desa Jlubang pada tahun 1979. Tas ransel besar menempel di punggungnya. Langkah mereka berhenti ketika berpapasan dengan Wonijan, warga desa setempat yang melintas di jalan setapak. “Mereka sempat berkata-kata, tapi saya tidak memahami maksudnya,’’ kata Wonijan.
Komunikasi antara Wonijan dengan para caver yang diketahui berasal dari Australia terkendala bahasa. Seorang dari tiga caver membeber peta dan menunjuk titik Luweng Jaran. Wonijan yang kala itu berusia 26 tahun akhirnya mengerti tujuan lawan bicaranya. Ia bersedia mengantar ke lokasi yang dituju.

Wonijan dan tiga caver berjalan menuju Luweng Jaran yang berjarak sekitar 750 meter dari lokasi pertemuan. Pemuda desa itu kemudian pergi setelah tiba di tempat yang dituju. Wonijan tidak mengetahui hasil dari penelusuran yang dilakukan caver asing tersebut. Selang beberapa tahun kemudian sejumlah tim penelusur gua berdatangan ke Luweng Jaran.
“Dari Yogyakarta, Jakarta, Bandung, dan masih banyak lagi,’’ ujar Wonijan yang pada 2012 menjabat sebagai Sekretaris Desa Jlubang.
Setiap caver yang hendak masuk Luweng Jaran wajib melapor kepada pemerintah desa. Karena itu, Wonijan mengetahui asal para penelusur maupun kelompok pecinta gua. Mayoritas di antaranya merupakan kalangan mahasiswa pecinta gua.
Dari sejumlah caver, Wonijan mengetahui dasar Luweng Jaran belum berhasil dijajaki. Para pecinta gua baru menembus jarak 25 kilometer. Jalur di gua vertikal itu dinilai masih panjang. “Ada anggapan tembus ke laut Selatan,’’ ujar dia.
Karena potensi gua belum diketahui secara pasti, kebijakan wajib lapor para caver kepada pemerintah desa berubah pada 1988. Setiap penelusur gua harus memberitahukan rencana kegiatannya ke Pemerintah Kabupaten Pacitan. Wonijan menyatakan aturan itu untuk lebih tertib administrasi.
“Untuk mencegah orang tak bertanggungjawab merusak atau mencuri batu yang indah di dari dalam luweng,’’ ia menuturkan. (*)

 

Penulis dan fotografer:
 
Nofika Dian Nugroho
(Jurnalis di Madiun dan sekitarnya)
nofika.nugroho@gmail.com 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here