Gudo, Wajah Kampung Toleran dari Jombang

0
52
Tampak rumah warga Tionghoa yang hidup harmonis dengan masyarakat pribumi di Desa/Kecamatan Gudo, Jombang.
Advertisement

Kampung ini adalah wajah solidaritas dan toleransi antar sesama. Tak memandang etnis dan agama, semua saling membantu dan menghormati. Toleransi itu berlangsung ratusan tahun dan akan tetap abadi.

idealoka.com – Gadis berjilbab tampak menyiapkan kebutuhan di ruang utama altar pemujaan Klenteng Hong San Kiong, Desa/Kecamatan Gudo, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Sementara di ruang makan dan dapur klenteng yang berada di belakang, beberapa wanita sibuk memasak dan menyiapkan makanan. Ada juga wanita berjilbab lainnya yang menyapu ruang makan dan mengelap lemari kaca tempat perabotan makan.

Atap bangunan Klenteng Hong San Kiong yang berbentuk joglo menggambarkan pengaruh Jawa yang kental dalam sejarah klenteng dan kehidupan etnis Tionghoa setempat.
Tampak salah satu pegawai Klenteng Hong San Kiong yang berjilbab sedang bekerja di klenteng setempat.
Advertisement

Mereka para pembantu atau pegawai klenteng yang rata-rata beragama Islam. “Yang pasti ada sembilan pegawai dan mayoritas Islam. Kalau ada acara besar bisa banyak lagi yang bantu-bantu disini dan semua warga sekitar,” kata pengurus Klenteng Hong San Kiong yang juga penyuluh agama Konghucu, Nanik Indrawati, saat ditemui di klenteng setempat, Minggu, 4 Februari 2018.

Pengurus, juru kunci klenteng atau pemandu ibadah, dan pegawai klenteng tampak membaur. Mereka bercengkrama dan makan bersama. Tak ada sekat meski beda etnis dan agama.

Pengurus dan petugas keamanan Klenteng Hong San Kiong bercengkrama di teras klenteng.

Nanik mengatakan etnis Tionghoa di Gudo tak seperti etnis Tionghoa pada umumnya. “Sudah sangat terpengaruh Jawa,” ucapnya. Bahkan dalam tutur kata mereka, lebih banyak menggunakan bahasa Jawa, bukan bahasa Indonesia campuran khas Tionghoa di Indonesia. “Kami sebagai pedagang di Pasar Gudo sering menggunakan bahasa Jawa halus kalau melayani pembeli,” katanya.

Kata sapaan dalam bahasa orang Tionghoa juga jarang digunakan diantara mereka. “Sama dengan orang Jawa, kami juga memanggil dengan sapaan bapak atau ibu,” ujarnya. Selain faktor lingkungan yang mayoritas Jawa, faktor keturunan juga mempengaruhi. “Tionghoa di Gudo ini sudah kecampuran Jawa. Banyak yang menikah dengan orang Jawa sini,” katanya.

Tokoh masyarakat yang juga mantan Kepala Desa Gudo, Budianto Tjokroatmodjo, mengatakan masyarakat Gudo dengan agama dan keyakinan beragam bisa hidup berdampingan dan harmonis sampai sekarang termasuk antara etnis Tionghoa dan pribumi Jawa. “Disini agamanya lengkap, ada Konghucu, Katolik, Kristen, dan Islam, tapi tidak pernah terjadi gesekan,” kata tokoh masyarakat yang akrab disapa Budi ini.

Toleransi dan gotong royong antar warga sangat tinggi. Ketika hari raya keagamaan, mereka saling silaturahmi dan mengucapkan selamat hari raya. “Saat mereka merayakan Natal, kita mengucapkan selamat. Sebaliknya ketika Idul Fitri mereka datang dan mengucapkan selamat,” katanya.

Ketika ada yang meninggal, warga juga saling melayat dan mengantarkan jenazah sampai dimakamkan meski beda agama. “Kalau ada yang meninggal, yang Islam juga ikut melekan (begadang),” ujarnya. Sebaliknya, warga non muslim juga diundang ketika tahlilan atau pengajian orang Islam yang meninggal dan mereka datang. “Mereka juga ikut doa sesuai agamanya saat tahlilan,” ujar Budi.

Begitu juga ketika perayaan atau kegiatan di klenteng. “Dalam setahun setidaknya ada dua kali kegiatan besar di klenteng dan melibatkan masyarakat sekitar,” ucap Budi. Untuk menyiapkan upacara besar, pihak klenteng juga menggunakan jasa masyarakat sekitar dengan upah tertentu. Sedangkan untuk keamanan melibatkan aparat TNI dan Polri dibantu sipil seperti Banser NU.

 

Berbagi dengan Warga

Di Klenteng Hong San Kiong, sajian makanan dan buah untuk arwah leluhur tak hanya dari umat Tri Dharma. Masyarakat sekitar juga membawa sajian yang sama demi mencari berkah. Salah satunya dalam perayaan sembahyang rebutan.

Sesajian di ruang ibadah Klenteng Hong San Kiong.

Ritual cing ho ping atau ulambana ini bertujuan mendoakan arwah leluhur yang diperingati tiap tanggal 29 bulan 7 tahun Imlek. “Mirip ritual nyadran kalau di Jawa,” kata pengurus Klenteng Hong San Kiong, Nanik Indrawati, Minggu, 4 Februari 2018.

Sebelum upacara dimulai, ratusan orang berbondong-bondong menuju klenteng dengan membawa berbagai macam sajian atau suguhan. Mulai dari nasi lengkap dengan lauk pauknya, kue, sampai buah-buahan dan makanan ringan lainnya. Suguhan itu diserahkan ke klenteng.

“Pihak klenteng mengeluarkan sesajian khusus yang inti tapi yang banyak kira-kira 90 persen dari masyarakat sekitar,” kata Nanik. Ritual mendoakan arwah hanya diikuti umat Tri Dharma sedangkan masyarakat menunggu di halaman klenteng.

Setelah ibadah penganut Tri Dharma selesai, mulailah dilakukan pembagian sesajian yang sudah dikumpulkan dan diacak. “Sesajian dari masyarakat itu kami kumpulkan dan diacak dan dibagi lagi ke masyarakat dengan tambahan sembako dari yayasan klenteng,” katanya.

Disebut sembahyang rebutan karena setelah ritual dilakukan pembagian se

Kuil untuk penganut Budha di Klenteng Hong San Kiong.

sajian makanan atau buah dari masyarakat dan biasanya ada yang berebut. Menurut Nanik, dalam kegiatan ini juga timbul sugesti masyarakat tentang masa depannya. Jika barang yang didapat lebih baik atau lebih berharga dari yang diserahkan ke klenteng, dipercaya kehidupannya akan beruntung dan rejekinya melimpah.

Sebaliknya, jika yang didapat lebih kecil nilainya maka kehidupannya dipercaya akan susah. “Misalnya hari ini membawa buah mangga tapi setelah dibagi mendapat tumpeng nasi, dipercaya tahun ini akan hidup makmur. Kalau dapatnya malah lebih kecil misalnya kerupuk berarti hidupnya dipercaya akan susah. Tapi itu sugesti ya,” katanya.

Remaja yang masih lajang juga mencari berkah dari sembahyang rebutan. “Cowok atau cewek yang masih jomblo kalau bisa dapat pucuknya tumpeng nasi diyakini jodohnya akan cepat,” katanya.

 

Membantu Tanpa Pandang Bulu

Minggu pagi, 4 Februari 2018, tak banyak umat Tri Dharma yang beribadah di Klenteng Hong San Kiong, Desa/Kecamatan Gudo, Kabupaten Jombang. Hanya beberapa saja yang datang silih berganti. Sebelum ritual, mereka membakar hio dan menyembah patung dewa Kong Co Kong Tik Cun Ong. Setelah itu, juru kunci atau pemandu ibadah klenteng memegang pwapwee atau sepasang alat dari kayu berbentuk setengah lingkaran atau seperti bulan sabit. Pwapwee dilempar untuk mengetahui jawaban dewa.

Umat Tri Dharma beribadah di Klenteng Hong San Kiong.

Beberapa kali juru kunci juga mengocok puluhan alat seperti supit atau stik, seperti orang mengundi atau melotre. Alat itu disebut ciam sie. Nomor yang tertera pada ciam sie ini akan menentukan ramalan nasib maupun ramalan resep obat. Ramalan-ramalan itu sudah tertulis dalam 100 jenis kartu ramalan yang disediakan dalam kotak-kotak kartu ramalan berbahasa Tiongkok dan bahasa Indonesia ejaan lama.

Pengurus Klenteng Hong San Kiong, Nanik Indrawati, mengatakan pwapwee adalah salah satu alat komunikasi antara manusia dan dewa dalam ramalan kuno Tiongkok. Tujuannya minta persetujuan dewa apakah permohonan yang diajukan diterima, dilanjutkan, atau dihentikan. “Jika salah satu pwapwee terbuka atau tertelungkup artinya disetujui. Jika keduanya tertelungkup artinya tidak disetujui dan jika keduanya terbuka artinya tidak pasti,” katanya.

Menurutnya, klenteng terbuka untuk semua umat, tak hanya umat Tri Dharma. “Semua yang meminta bantuan atau pertolongan melalui Kong Co Kong Tik Cun Ong selalu dilayani asal tujuannya baik,” ujarnya.

Tak hanya etnis Tionghoa atau umat Tri Dharma yang minta bantuan di Klenteng Hong San Kiong, tapi juga masyarakat pribumi yang rata-rata beragama Islam. Keperluan mereka beragam mulai dari ingin anaknya lulus ujian, mendapat pekerjaan yang baik, sembuh dari penyakit atau masalah keluarga, sampai soal jodoh.

“Ada saja orang yang minta bantuan agar barang yang akan digunakan untuk tujuan tertentu di-blessing (diberkati) di sini. Misalnya pensil untuk ujian atau surat lamaran kerja,” ucap Nanik. Barang atau benda itu diberkati di altar pemujaan dengan bantuan juru kunci klenteng. “Bukan berarti mereka diberkati jadi umat Konghucu. Sama sekali tidak,” katanya.

Ruang menuju tempat ibadah Klenteng Hong San Kiong.

Banyak keajaiban yang diyakininya karena kekuasaan dewa yang disembah di klenteng setempat. “Pernah ada warga yang minta pertolongan agar anaknya yang hilang ditemukan. Setelah juru kunci meminta petunjuk ke dewa, anak tersebut bisa ditemukan,” katanya.

Begitu juga ketika ada warga yang sudah lama mengabdi di klenteng dan menderita sakit kanker. “Karena tidak punya biaya, maka minta bantuan ramalan resep obat dengan petunjuk dari Kong Co Kong Tik Cun Ong (Dewa Klenteng Hong San Kiong),” kata Nanik. Berkat obat tersebut, yang bersangkutan bisa bertahan hidup sampai meninggal di usia tua. “Tapi semua kembali pada kepercayaan masing-masing,” ujarnya.

 

Merawat Toleransi Lewat Seni

Sikap saling menghormati antara etnis Tionghoa dan pribumi di Desa/Kecamatan Gudo, Jombang, tak hanya mendatangkan kerukunan. Lebih dari itu, akulturasi sosial dan budaya juga terjadi sejak lama. Ini bisa dilihat dari keterlibatan masyarakat pribumi dalam kegiatan klenteng, ikatan perkawinan antara pribumi dan etnis Tionghoa, sampai kesenian tradisional Jawa dan Tionghoa yang tumbuh berdampingan.

Salah satu warga pribumi yang menikah dengan etnis Tionghoa adalah Sri Mukminah. Ia menikah dengan mantan Ketua Yayasan Klenteng Hong San Kiong namun sudah meninggal dunia. “Saya kenal beliau saat saya menjadi pegawai di tokonya. Setelah istri pertama beliau meninggal dunia, lalu menikah dengan saya,” ucap Sri yang jadi juru masak di Klenteng Hong San Kiong, Minggu, 4 Februari 2018.

Ia bahagia dengan sikap saling toleran dan solidaritas antara pengurus maupun pegawai di kelnteng meski beda agama atau keyakinan. “Rata-rata pegawai di klenteng ya masyarakat sekitar dan beragama Islam. Ketika waktu salat, kita ya salat,” katanya.

Bukti ikatan perkawinan pribumi dengan etnis Tionghoa juga dikatakan penjaga atau satpam Klenteng Hong San Kiong, Suyoto, 65 tahun. Pria yang sudah lebih dari 30 tahun jadi penjaga klenteng ini mengatakan ibunya dulu pernah menikah dengan warga Tionghoa di Gudo.

“Setelah suami ibu saya yang Tionghoa meninggal dunia, ibu saya menikah lagi dengan orang Tulungagung (Jawa) dan punya anak termasuk saya,” kata Suyoto.

Sekolah PAUD Satya Dharma milik Yayasan Klenteng Hong San Kiong yang digratiskan bagi masyarakat Gudo.

Hubungan sosial klenteng dengan masyarakat sekitar tak hanya saat momen perayaan tapi juga diwujudkan dalam lembaga sosial dan pendidikan.Yayasan Klenteng Hong San Kiong pernah memiliki balai pengobatan namun sudah beralih fungsi menjadi tempat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang digratiskan bagi warga sekitar.

Kesenian Tionghoa dan Jawa juga tumbuh berdampingan di Gudo. Klenteng tak hanya mengajarkan atau melestarikan kesenian khas Tionghoa seperti Wayang Potehi dan Barongsai tapi juga kesenian Jawa seperti Jaranan. “Kami menyediakan tempat dan peralatan untuk latihan Barongsai dan Jaranan,” kata Ketua Yayasan Klenteng Hong San Kiong, Toni Harsono.

Proses pembuatan wayang potehi di kompleks Klenteng Hong San Kiong. (Foto: Rony Suhartono)

Toni merupakan dalang sekaligus seniman pembuat wayang potehi. Usaha pembuatan wayang potehi itu dirintis sejak tahun 2001. Selain melihat contoh wayang potehi di dalam negeri, Toni juga sempat melihat pembuatan wayang potehi di Tiongkok. Ia mendirikan museum dan bengkel pembuatan potehi di area yang masih satu kompleks dengan Klenteng Hong San Kiong. Ia dibantu beberapa orang di Jombang dan luar Jombang untuk mengukir wayang kayu potehi sampai mengecat dan memberikan sentuhan karakter wayang sesuai peran yang dimainkan.

Bilik tempat pementasan wayang potehi di halaman Klenteng Hong San Kiong.

Kesenian-kesenian tersebut tak hanya dipentaskan pada momen perayaan tertentu tapi juga digunakan sebagai sarana menjalin hubungan harmonis antar klenteng dengan masyarakat sekitar. “Disini kalau membangunkan orang sahur di bulan puasa (Ramadan) tidak menggunakan kentongan, tapi tabuhan barongsai dan jaranan yang diarak keliling kampung,” kata Toni.

Kehidupan yang harmonis antar umat beragama di Gudo dikenal sampai internasional. Beberapa pejabat tingkat nasional dan luar negeri datang ke Gudo dan mampir ke Klenteng Hong San Kiong untuk melihat langsung. Pada Maret 2017, Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia Joseph R. Donovan mengunjungi klenteng setempat.

Kemudian pada Oktober 2017, perwakilan pemuda dari 21 negara di ASEAN dan beberapa negara di dunia juga mengunjungi klenteng setempat sebagai rangkaian ASEAN Youth Interfaith Camp (AYIC) di Jombang. Mereka mempelajari sikap toleransi antar umat beragama di Gudo.

Klenteng setempat juga sering jadi lokasi seminar atau diskusi keberagaman. Kegiatan mahasiswa baru dari universitas milik pesantren di Jombang juga terkadang dilakukan di asrama dan gedung pertemuan di klenteng setempat.

Papan berisi ucapan selamat ulang tahun untuk dewa di Klenteng Hong San Kiong dan kata mutiara dari komunitas GusDurian yang dipasang di klenteng setempat.

Perbedaan tak membuat mereka tersekat dan jauh. Perbedaan semakin membuat mereka satu. Seperti kalimat bijak yang ditulis pada papan ucapan selamat ulang tahun untuk leluhur Klenteng Hong San Kiong dari komunitas pecinta pemikiran Gus Dur atau GusDurian Jombang: “Semakin kita berbeda, semakin jelas dimana titik persamaan kita”. (*)

 

Reporter dan Fotografer: Ishomuddin

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here