TIONGHOA RASA JAWA (2): Toleransi dari Hati

0
56
Advertisement

Kampung ini adalah wajah solidaritas dan toleransi antar warga terutama Jawa dan Tionghoa. Tak memandang etnis dan agama, semua saling membantu dan menghormati.

 

Advertisement

idealoka.com – Gadis berjilbab tampak menyiapkan kebutuhan di ruang utama altar pemujaan klenteng Hong San Kiong, Desa/Kecamatan Gudo, Jombang, Jawa Timur. Sementara di ruang makan dan dapur klenteng yang berada di belakang, beberapa wanita sibuk memasak dan menyiapkan makanan. Ada juga wanita berjilbab lainnya yang menyapu ruang makan dan mengelap lemari kaca tempat perabotan makan.

Mereka para pembantu atau pegawai klenteng yang rata-rata beragama Islam. “Yang pasti ada sembilan pegawai dan mayoritas Islam. Kalau ada acara besar bisa banyak lagi yang bantu-bantu disini dan semua warga sekitar,” kata pengurus klenteng setempat yang juga penyuluh agama Konghucu, Nanik Indrawati, 4 Februari 2018. Pengurus, juru kunci atau pemandu ibadah, dan pegawai klenteng membaur. Mereka bercengkrama dan makan bersama. Tak ada sekat etnis dan agama.

 

Nanik mengatakan etnis Tionghoa di Gudo tak seperti etnis Tionghoa pada umumnya. “Sudah sangat terpengaruh Jawa,” katanya. Bahkan dalam tutur kata mereka, lebih banyak menggunakan bahasa Jawa, bukan bahasa Indonesia. “Kami sebagai pedagang di Pasar Gudo sering menggunakan bahasa Jawa halus kalau melayani pembeli,” katanya.

 

Kata sapaan khas Tionghoa juga jarang digunakan diantara mereka. “Sama dengan orang Jawa, kami juga memanggil dengan sapaan ‘bapak’ atau ‘ibu’,” ujarnya. Selain faktor lingkungan yang mayoritas Jawa, faktor keturunan juga mempengaruhi. “Tionghoa di Gudo ini sudah kecampuran Jawa. Banyak yang menikah dengan orang Jawa sini,” katanya.

 

Mantan Kepala Desa Gudo Budianto Tjokroatmodjo mengatakan masyarakat Gudo dengan agama dan keyakinan beragam bisa hidup berdampingan dan harmonis sampai sekarang termasuk antara etnis Tionghoa dan pribumi Jawa. “Disini agamanya lengkap, ada Konghucu, Katolik, Kristen, dan Islam, tapi tidak pernah terjadi gesekan,” katanya.

 

Toleransi dan gotong royong antar warga sangat tinggi. Ketika hari raya keagamaan, mereka saling silaturahmi dan mengucapkan selamat hari raya. “Saat mereka merayakan Natal, kita mengucapkan selamat. Sebaliknya ketika Idul Fitri mereka datang dan mengucapkan selamat,” katanya.

 

Ketika ada yang meninggal, warga juga saling melayat dan mengantarkan jenazah sampai dimakamkan meski beda agama. “Kalau ada yang meninggal, yang Islam juga ikut melekan (begadang),” ujarnya. Sebaliknya, warga non muslim juga diundang ketika tahlilan orang Islam yang meninggal dan mereka datang. “Mereka juga ikut doa sesuai agamanya,” katanya.

Begitu juga ketika perayaan atau kegiatan di klenteng. “Dalam setahun setidaknya ada dua kali kegiatan besar di klenteng dan melibatkan masyarakat sekitar,” katanya. Untuk menyiapkan upacara besar, pihak klenteng juga menggunakan jasa masyarakat sekitar dengan upah tertentu. Sedangkan untuk keamanan melibatkan aparat TNI dan Polri dibantu sipil seperti Banser NU. (bersambung)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here