Sosok Bayu, Aktivis Gereja Penghalau Pengebom Gereja Santa Maria

0
322
Foto: facebook.com
Advertisement

idealoka.com – Salah satu korban bom gereja di Surabaya, Aloysius Bayu Rendra Wardhana, dikenal hobi fotografi. Dalam laman Facebooknya, pria yang akrab disapa Koko Item ini menampilkan karya-karya fotografinya yang kebanyakan model wanita.

Selain fotografer model, pemilik Cornel Photosolution ini juga dikenal sebagai aktivis di Gereja Katolik Paroki Santa Maria Tak Bercela di Jalan Ngagel Madya Nomor 1 Surabaya.

Advertisement

“Jika hari Minggu atau ada perayaan besar, dia selalu aktif membantu kegiatan gereja,” kata salah satu petugas satpam gereja setempat, Fransiskus, Minggu malam, 13 Mei 2018. Saat kejadian ledakan di Gereja Santa Maria, Fransiskus sedang tidak bertugas. Setelah ada ledakan, ia dan beberapa satpam ditugaskan menjaga gereja. Menurut informasi yang diterimanya, saat kejadian, Bayu menghalangi pelaku peledakan bom. “Saat pelaku memaksa masuk ke dalam halaman gereja, Bayu menghalangi dan bom meledak,” katanya.

Foto: facebook.com

Salah satu jemaat gereja Santa Maria, Paul, membenarkan jika Bayu termasuk salah satu aktivis gereja. “Selain itu yang saya dengar dia juga bekerja di salah satu event organizer (penyelenggara kegiatan),” katanya. Rekan kerja Bayu di event organizer tampak berdatangan di rumah duka di Jalan Gubeng Kertajaya I Raya Nomor 15A Surabaya. “Dia suka fotografi,” kata salah satu rekan kerja Bayu.

Pihak keluarga Bayu enggan diwawancarai awak media karena masih syok. “Maaf, kami mau berdoa dulu,” kata istri Bayu, Monica, saat idealoka.com meminta wawancara sebelum misa di rumah duka digelar. Ayah Bayu, Siswanto, juga enggan dimintai wawancara.

Salah satu romo Gereja Santa Maria yang memimpin misa di rumah duka meminta jemaah tidak ikut menyebarkan foto dan video korban bom. “Jangan ikut menyebarkan, lebih baik mendoakan dan menguatkan keluarga,” katanya. Ia juga meminta pada jemaah agar tidak terpancing emosi dan amarah pada pelaku peledakan bom. “Sebab mereka juga korban ketidaktahuan,” ujarnya.

Minggu pagi, 13 Mei 2018, bom meledak hampir bersamaaan di tiga gereja di Surabaya. Bom pertama meledak di gereja Santa Maria Tak Bercela Jalan Ngagel Madya Nomor 1, bom kedua meledak di Gereja Kristen Indonesia (GKI) Jalan Raya Diponegoro, dan terakhir di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS) Jalan Arjuno. Bom bunuh diri di tiga gereja ini dilakukan satu keluarga mulai dari ayah, ibu, dan empat anaknya yang masih di bawah umur.

Minggu malam, bom juga meledak di Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) Wonocolo, Kecamatan Taman, Kabupaten Sidoarjo. Bom meledak di kamar yang dihuni keluarga anggota jaringan teroris akibat ceroboh. Senin pagi, 14 Mei 2018, bom kembali meledak di pintu gerbang Markas Polrestabes Surabaya. Bom bunuh diri ini juga dilakukan satu keluarga.

Ledakan bom selama dua hari di Surabaya dan Sidoarjo itu dilakukan jaringan teroris Jemaah Anshorud Daulah (JAD) Surabaya. Pasca ledakan bom di Surabaya dan Sidoarjo, Densus 88 Anti Teror Polri menangkap sejumlah terduga teroris jaringan JAD. Polri juga masih menetapkan status siaga I untuk seluruh jajaran kepolisian di Indonesia. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here