Batal ke Gereja, Orang-orang Ini Selamat dari Bom Surabaya

0
144
Petugas Dinas Kebersihan membersihkan puing-puing kaca di Gereja Santa Maria Tak Bercela, Surabaya
Advertisement

idealoka.com – Jimmy, 23 tahun, mahasiswa Universitas Dr. Soetomo (Unitomo), Surabaya, tak menyangka ada bom yang meledak di gereja yang biasa jadi tempatnya beribadah, Gereja Katolik Paroki Santa Maria Tak Bercela. “Saya biasanya kalau hari Minggu ibadah kesana, namun pagi tadi tidak jadi ke gereja karena ada kegiatan lain,” kata mahasiswa asal Kabupaten Larantuka, Nusa Tenggara Timur (NTT) ini, Minggu malam, 13 Mei 2018.

Menurutnya, ada mahasiswa asal NTT yang kuliah di Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya yang jadi korban di Gereja Santa Maria Tak Bercela. “Informasi yang saya terima dari teman-teman, dia jadi korban, asalnya dari Manggarai, NTT. Saya kurang tahu namanya,” ujarnya.

Advertisement

Sementara itu, salah satu jemaah Gereja Kristen Indonesia (GKI) di Jalan Raya Diponegoro 146, Surabaya, Jeremy, juga selamat karena batal ke gereja. “Setelah saya mendengar ada bom di gereja, saya tidak jadi berangkat,” katanya. Sebelumnya, ia sudah berniat berangkat ke gereja. “Tapi saya mampir dulu ke bengkel untuk servis mobil,” katanya.

Lokasi bengkel dengan gereja setempat hanya berjarak sekitar 2 kilometer. “Dari jarak itu saya mendengar suara ledakan dan saya kira suara gardu listrik yang meledak,” ujar jemaah gereja yang tinggal di Sidoarjo ini.

Minggu pagi, 13 Mei 2018, bom meledak hampir bersamaaan di tiga gereja yang ada di Surabaya. Selain di gereja Santa Maria Tak Bercela dan GKI, satu bom juga meledak di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS) di Jalan Arjuno. Selain di gereja, bom juga meledak di Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) Wonocolo, Kecamatan Taman, Kabupaten Sidoarjo, Minggu malam. Bom meledak di kamar yang dihuni salah satu anggota jaringan teroris.

Esok harinya, Senin pagi, 14 Mei 2018, bom kembali meledak di pintu gerbang Markas Polrestabes Surabaya. Ledakan bom selama dua hari di Surabaya dan Sidoarjo itu dilakukan jaringan teroris Jemaah Anshorud Daulah (JAD) Surabaya. Ledakan bom di tiga gereja dan markas kepolisian tersebut adalah bunuh diri dan ironisnya dilakukan dua keluarga mulai dari ayah, ibu, dan anak-anak. Sedangkan bom yang meledak di Sidoarjo akibat kecerobohan anggota teroris dan menyebabkan istri dan salah satu anaknya tewas, sedangkan tiga anak yang lain selamat.

Pasca ledakan bom di Surabaya dan Sidoarjo, Densus 88 Anti Teror Polri menangkap sejumlah terduga teroris jaringan JAD. Polri juga masih menetapkan status siaga I untuk seluruh jajaran kepolisian di Indonesia. (*)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here