Tradisi Ngaji Pasaran di Bulan Ramadan

0
167
Santri khataman kitab kuning di Masjid Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur
Advertisement

idealoka.com – Kumandang salat asar terdengar. Mereka bergegas bangun dari bilik kamar dan mengambil air wudlu. Tak lupa sarung dan songkok atau peci dipakai. Kitab dan sebuah pena berujung tajam mereka genggam. Usai wudlu, mereka berjajar di masjid menunaikan salat asar.

Setelah salat dilanjutkan dzikir dan doa. Lalu mereka menyebar duduk bersila di lantai masjid. Kitab dengan kertas warna kuning dan berbahasa Arab tanpa harakat atau gundul tanpa tanda baca mereka buka. Tak lupa doa memohon berkah ilmu mereka baca sebagai pembuka majlis pengajian kitab sore itu.

Advertisement

Dengan bantuan lampu meja, sang kiai atau ustad mulai membaca kitab berbahasa Arab dengan diterjemahkan dalam bahasa Jawa atau bahasa Indonesia. Sebagaimana lazimnya, para santri menulis makna terjemahan kata per kata dengan kode atau ejaan tertentu pada kitab yang mereka pegang dengan bahasa daerah atau bahasa Indonesia tapi berhuruf Arab. Teknik memaknai kata dalam bahasa daerah atau Indonesia dengan menggunakan huruf Arab itu lazim disebut Arab pego atau pegon.

Begitulah suasana sore hari pengajian kitab selama Ramadan yang digelar di Pesantren Tebuireng, Desa Cukir, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Pengajian khataman kitab itu rutin digelar setiap tahun selama bulan puasa Ramadan. Tahun ini Tebuireng menyajikan 29 judul kitab kuning yang dibaca dan dikaji.

Kitab-kitab karangan ulama kuno dan kontekstual hingga sekarang itu beragam bidang. Ada yang membahas tentang tafsir hadits, Al Qur’an, fikih atau panduan ibadah, akhlak atau moral, hingga tasawuf atau filsafat.

“Tahun ini ada 29 kitab yang dikhatamkan (dituntaskan) sampai pertengahan Ramadan,” kata salah satu pengurus Pesantren Tebuireng Lukman Hakim, Minggu, 3 Juni 2018. Pengajian kitab tersebut dilakukan setelah waktu salat baik subuh, duhur, asar, dan magrib.

Tak hanya serambi masjid yang dipenuhi para pemburu khataman kitab, serambi-serambi asrama dan kompleks makam pesantren juga digunakan sebagai tempat khataman kitab. “Para santri juga dibebaskan mau ikut khataman kitab yang mana,” kata Lukman.

Bebasnya memilih kitab yang akan dikhatamkan ini sering disebut dengan istilah pasaran. Maksudnya, santri dibebaskan seperti memilih barang di pasar, mana yang disukai dan diminati, itu yang diambil.

Tak hanya santri pesantren setempat, para pemburu khataman kitab juga datang dari luar pesantren dan bahkan luar kota. Masyarakat luar atau santri pendatang biasa disebut santri kalong. Kalong dalam bahasa Jawa berarti kelelawar besar yang biasa pulang ke habitatnya tiap sore hari. Begitu juga santri kalong yang hanya datang saat khataman kitab selama Ramadan. Setelah khataman selesai, mereka pulang ke daerah asal.

“Biasanya santri kalong ini mencari khataman kitab-kitab besar yang sejak dulu terkenal dikhatamkan di pesantren setempat secara turun temurun,” kata Lukman. Salah satu kitab yang turun temurun dikhatamkan selama Ramadan di Tebuireng adalah Sahih Bukhori. Sahih Bukhori berisi kumpulan hadits-hadits terpercaya dari Nabi Muhammad yang diriwayatkan Imam Bukhori. Kitab ini dikhatamkan selama Ramadan di Tebuireng sejak zaman almarhum KH Hasyim Asy’ari pendiri Nahdlatul Ulama (NU).

Tak hanya Tebuireng, puluhan pesantren di Jombang juga melakukan khataman kitab kuning selama Ramadan. Seperti pondok pesantren Mambaul Ma’arif, Desa Denanyar, Jombang, yang tahun ini mengkhatamkan sekitar 10 kitab kuning. “Kitab utama yang dikhatamkan santri adalah kitab fikih Minhajul Qowim dan kitab yang dikaji dalam pengajian umum adalah Kifayatul Atqiyak yang berisi tasawuf (filsafat),” kata pengasuh pondok pesantren Mambaul Ma’arif KH Abdussalam Sokhib yang akrab disapa Gus Salam.

Sementara itu, di pondok pesantren putri Al Aqobah, Desa Kwaron, Kecamatan Diwek, Jombang, telah khatam (tuntas membaca) tiga kitab kuning antara lain Bidayatul Hidayah, Audhoul Bayan, dan Adabul Alim wal Muta’allim. “Kitab-kitab itu berisi tentang fikih, tasawuf, dan etika belajar mengajar,” kata pengasuh pondok pesantren putri Al Aqobah KH Junaidi Hidayat. Junaidi mengatakan selain khataman kitab, kegiatan santri selama Ramadan adalah salat malam, salat tarawih, tadarus Al Qur’an, santunan ke panti asuhan, dan pembagian zakat. (*)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here