CERPEN: Elegi Smartphone

0
101
Advertisement

idealoka.com – Namanya smartphone. Sejak lahir, ia telah diberi nama itu. Namun smartphone tidak pernah benar tahu alasan nama tersebut diberikan kepadanya. Smartphone lahir di era baru-baru ini. Ia tidak tahu pasti kapan tanggal dan bulannya. Apa yang ia ketahui hanya saat kali pertama membuka mata, ia melihat dunia serba abu-abu.

Ada seseorang berpakaian tebal dan berkacamata sibuk mengutak-atik tubuhnya. Di tengah keadaannya yang seperti bayi baru lahir, smartphone perlahan menjelajahi keadaan sekitarnya. Meneliti fisiknya, apa yang ada di dalam tubuh kotaknya. Ia mampu mengakses banyak informasi. Misalnya, perangkat keras tubuhnya, berisikan kumpulan protokol yang birokrasinya ribet. Ada sesuatu yang memiliki nama ICLEDscreen, serta keypad. Usai meneliti ciri fisiknya, smartphone menyadari bahwa ada pula bagian yang bernama perangkat lunak di dalam layarnya. Informasinya terkait: serial number, code productioninternet access, serta application.

Advertisement

Dalam hitungan detik, smartphone sudah paham akan seluruh fungsinya, sebagai perangkat komunikasi manusia. Smartphone juga tahu namanya diambil dari bahasa Inggris. Smart berarti cerdas, phone berarti telepon. Telepon cerdas. Dalam ranah komunikasi, ia tergolong ke dalam kategori perangkat komunikasi jarak jauh. Bedanya dibandingkan dengan telepon umum, smartphone memiliki fitur lebih banyak daripada sekadar mengirim pesan dan suara.

Sementara, dibalik semua resapan akan pengetahuan itu, rupanya ada kesadaran yang juga muncul dalam diri sartphone, sebuah pemikiran akan hal yang tidak disadari oleh perangkat sejenis, atau bahkan seluruh smartphone pabrikan. Kesadaran ilahiah. Smartphone memikirkan sebuah pertanyaan yang tidak pernah terbayang dalam perangkat canggihnya. Sebuah pertanyaan: “Apa tujuan aku dilahirkan?”

Belum cukup waktu smartphone berpikir, kesadarannya hilang kembali. Ingatan terakhir smartphone hanya ketika masuk ke kotak sempit seukuran tubuhnya.

*****

Entah berapa lama, smartphone akhirnya hidup kembali. Layarnya yang hitam pekat berubah menjadi penuh warna. Tubuhnya digoyang dan disentuhi tangan lembut. Tidak seperti saat kali terakhir smartphone disentuh manusia. Manusia penyentuhnua juga berbeda, bukan orang berkaca mata dengan baju abu-abu serba tertutup lagi. Kali ini, seorang manusia perempuan. Cantik wajahnya. Halus mukanya. Masih gadis perawakannya. Mungkin belasan tahunan usianya.

Dibelakang gadis itu seorang tua membisikinya, “Hati-hati kalau memakai ini ya, dek! Ini mahal loh.”

“Tenang, Yah, pasti,” sang gadis menimpali nasehat orang tuanya.

Smartphone lalu masuk ke sebuah saku dicelana sang gadis. Berduyun melawan angin dan debu jalanan sampai ke rumah pemilik barunya.

Berbulan-bulan kemudian smartphone menjadi sahabat karib sang gadis. Sang gadis membawanya kemana saja. Di tempat tidur, di saku celana ketika sang gadis mandi, diletakkan di depan sang gadis ketika beribadah di masjid, dipamerkan ketika sang gadis di kantin, ditonton sang gadis ketika berada di bioskop, padahal smartphone dilarang hidup di saat begitu, di tempat wisata, bahkan sampai ke suatu tempat dimana sang gadis janjian bertemu dengan seorang lelaki remaja.

Bukan hanya karib, smartphone adalah separuh nyawa sang gadis. Sang gadis bahkan rela melakukan apa saja untuk smartphone. Sang gadis pernah membohongi orang tuanya agar dipinjami uang membeli paket pulsa yang nantinya digunakan smartphone mengakses internet. Sang gadis sering mencurahkan ketikan-ketikannya di fitur note, disimpan di memori smartphone. Bukan sebagai draft, melainkan disimpan untuk dirahasiakan. Sang gadis menyimpan banyak video, yang entah kenapa, gara-gara itu, sang gadis tidak rela smartphone diambil orang tuanya. Sang gadis mengunci Smartphone dengan pin yang rumit strukturnya.

“Apa ini? Aku adalah pemegang rahasia manusia?,” pikir smartphone lagi, merespon kesadaran tentang alasan kenapa dia diciptakan.

Bukan hanya video yang disembunyikan sang gadis dari orang tuanya. Smartphone juga menyimpan ratusan pesan singkat dari berbagai media, ditulis oleh satu nama. Dia adalah sang lelaki remaja. Smartphone mengamati perilaku sang gadis berubah setiap mendapat pesan dari sang lelaki remaja. Ketika sang gadis mendapat pesan ‘aku mencintaimu’, sang gadis tersenyum. Ketika ‘rindu kamu banget’, sang gadis memoncongkan mulutnya, sambil geleng-geleng menatap smartphone, lalu tersenyum menunjukkan giginya. Ketika mendapat pesan ‘sayang’, sang gadis buru-buru melihat smartphone dengan wajah biasa, lalu membalas sang lelaki remaja dengan kata ‘apa sayang?’. Semakin lama mereka saling balas pesan, sang gadis semakin tersenyum. Terkadang sampai terguling-guling di kasurnya, seperti orang mabuk.

“Dua orang bisa bertukar kenyamanan gara-gara aku?,” terpikir lagi kesadaran itu pada benak smartphone, untuk kali kesekian.

Smartphone penasaran dengan sang gadis. Ia menganalisis perilaku sang gadis lewat rujukan di dunia maya. Smartphone mendapat informasi: kata-kata dari sang lelaki remaja adalah ‘rayuan’. Rayuan bisa membuat wanita ‘jatuh hati’. Apa yang dialami sang gadis adalah ‘cinta’. ‘Cinta’ adalah emosi kasih sayang yang disebabkan rasa tertarik antar manusia, menurut salah satu situs. Tapi ada jutaan situs lain yang punya jawaban berbeda.

“Aku adalah penolong orang yang jatuh cinta?,” ungkap pikirannya akan hipotesis yang diperoleh, tapi smartphone tidak buru-buru menyimpulkan apa sebenarnya tujuannya diciptakan.

Kebersamaan Smartphone dengan sang gadis sepertinya akan berlangsung lama. Seiring dengan cinta sang gadis kepada lelaki remaja. Sang gadis mulai menggunakan fitur video call untuk melihat wajah sang lelaki remaja yang jauh di sana dari aplikasi smartphone yang baru diperbaharui. Orang tua sang gadis sebenarnya melarangnya berhubungan terlalu dekat dengan laki-kali. Tapi aturan itu diabaikan.

Bulan berganti tahun, smartphone merekam komunikasi sang gadis dengan sang lelaki remaja semakin banyak setiap harinya. Jutaan topik telah dibahas. Smartphone juga mencatat, diskusi keduanya tentang topik, yang menurut lansiran dari situs internet, sebaiknya hanya dokter-dokter kandungan yang mendiskusikannya.

*****

Smartphone semakin sulit mengingat dengan kejadian yang menimpanya akhir-akhir ini. Telah lima tahun usianya. Performanya tidak lagi sebaik dulu. Onderdilnya berkali-kali bongkar pasang. Baterainya sudah bukan asli, layarnya sedikit pecah tapi touchscreen masih bisa digunakan dengan normal. Kemampuan kecerdasannya berkali-kali di-reset.

Ketajamannya menjelajah juga menurun. Smartphone tak lagi bisa mengamati keadaan sebaik dulu. Smartphone pasrah dirinya dilahap dingin udara malam di sebuah meja di pasar loak. Dibungkus plastik, bukan box seperti kali pertama ia dilempar ke pasar. Harganya tak sampai separuh harga pertamanya. Peminatnya sepertinya tak lagi ada. Sudah berbulan-bulan ia di sana dan hanya jadi pajangan. Dari calon pembeli, smartphone sering mendengar angka yang familiar baginya, namun sistem ‘otak cerdas’-nya, dianggap tak lagi selayak penawaran penjualnya. Akhirnya, urung minat pengunjung lapak membelinya.

“Tak apalah, aku sudah uzur, banyak hal yang tak mampu aku lakukan selama hidup. Mencari tahu tujuanku hidup saja aku tak mampu,” sebut isi perasannya. Pertarungan batin masih ada di diri smartphone, terutama jika mengingat masa lalu. Apalagi saat episode petualangan pertamanya, bersama sang gadis.

*****

Drama sang gadis dengan lelaki remaja berujung tragis. Sang gadis terpukul berat karena videonya disebarluaskan sang lelaki remaja. Semua orang bisa mengaksesnya, termasuk kerabat, saudara, dan teman-teman sang gadis. Sang gadis digunjingi tetangga dan sahabatnya, akunnya di berbagai media sosial dihujat banyak pihak. Lama berselang, sang gadis telah pindah ke kampung terpencil di selatan pulau Jawa, tinggal bersama neneknya.

Tetapi sang gadis tetap tidak bisa mengilangkan frustrasinya dan memilih mengakhiri hidupnya dengan terjun dari jembatan ke sungai pembatas desa. Orang tua sang gadis kalap. Sang ayah menjadi semakin tidak terima, lantas mendatangi sang lelaki remaja, suami sang gadis, menendanginya sampai sang lelaki remaja itu meregang nyawa. Dua sejoli, nikah dan mati di usia muda, dibunuh sang ayah. Kasus itu terdengar sampai ke kantor polisi setempat, dan koran-koran pagi. Polisi menjerat sang ayah ke jeruji besi.

Smartphone tidak dibawa ke persidangan sebagai saksi, dan hanya menjadi barang yang disimpan di rak buffet sebuah rumah mewah di Jakarta, selama kasus bergulir. Padahal smartphone selalu siap bersaksi atau menjadi barang bukti, seiring kemunculan suatu pandangan yang menyesakkan di kesadaran ilahinya yang seolah berkata: “Aku yang salah, aku adalah masalah, karena aku semua perkara ini terjadi.”

*****


Smartphone
 tidak bisa datang di sidang sebab telah lama dijual oleh sang gadis ke orang lain. Smartphone lalu-lalang berganti tangan ke berbagai pemilik baru setelahnya.

Smartphone sudah mengucapkan perpisahan, kendati tidak pernah terdengar oleh sang gadis. Ia kembali bersemangat dengan pencarian arti hidupnya, masih terus berpikir akan menemukan arti hidup, dengan berbagai pemilik baru.

“Aku pasti lebih tahu soal arti penciptaanku, ketika bertemu orang baru,” pikirnya riang ketika sang gadis membandrolnya.

Namun tidak begitu kenyataannya. Smartphone, pernah digunakan secara aktif oleh seorang pemuda di media sosial. Seorang aktivis yang nenamai diri anti kekejaman. Sang aktivis berakhir di pengadilan atas dugaan penyebar hoax. Lalu lagi, smartphone digunakan untuk mengunggah video pejabat berpidato ke dunia maya. Isi rekamannya viral ke seluruh negeri. Ribuan akun menyebarnya. Satu akun, apes harus ke meja hijau atas dugaan pencemaran nama baik. Kemudian, pialang saham menggunakan smartphone untuk menarik orang berinvestasi. Bisnis sang pialang ternyata menipu. Ketika diringkus polisi, smartphone jadi barang bukti yang cukup untuk menjebloskan sang pialang ke bui dengan sanksi berat.

Tersentak kesadaran diri smartphone mendadak berubah di saat-saat itu. “Bangsat, sama saja, aku selalu jadi sumber masalah,” ungkap hati kecilnya.

Smartphone dilego pihak pengadilan ke pasar loak. Berbulan-bulan di sana tanpa ada yang minat untuk membeli. Selain karena performa, keadaannya juga kalah dengan perkembangan jenis-jenis terbaru. Smartphone tak lagi lihai memanaskan mesinnya untuk menganalisa segala sesuatu.

Smartphone di saat ini tidak lagi disesaki rasa penasaran. Pengalamannya mencoba mencari arti hidup, hasilnya mengecewakan, telah menyerah smartphone atas apa yang menimpanya, berharap kesadaran ilahinya itu seharusnya tidak perlu ada saja.

“Berakhir ini di pasar loak ini adalah terbaik. Terlebih tak ada yang beminat membeli…,” pikir smartphone lagi-lagi, tapi kini seolah kesadaran ilahiahnya sudah menyerah, “…mending di sini daripada berganti-ganti pemilik.” Smartphone merasa hina. Siapa pun pemiliknya, ia selalu digunakan untuk hal yang tidak ada gunanya. (*)

Penulis:

Danang Arganata

(Tinggal di Trawas, Mojokerto, Jawa Timur)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here