CERPEN: Bunga Agustus di Pagar Rumah Itu

0
98
Advertisement

idealoka.com – Bunga Agustus berwarna kejingga-jinggan mulai bermuculan di pagar sebuah rumah. Ratusan jumlahnya. Pemandangan yang Indah. Tak ada bunga di seantero wilayah setempat yang mampu memandingi rimbun dan megahnya Bunga Agustus di pagar rumah itu. Di antara semua warga, tak ada yang lebih menyukai hal tersebut melebihi Asih. Kesukaan yang sudah tampak dari raut muka. Wajah Asih begitu ceria begitu memandangi kembang berjuluk orange trumpet itu dari jendela ruang tamu rumahnya. Akhirnya Agustus datang, pikirnya.

Sudah bukan rahasia lagi kalau Asih begitu menyukai suasana ketika bulan agustus datang. Mulai dari namanya, kembangnya, hawanya, segalanya. Setiap agustuslah biasa Asih tersenyum-tersenyum sendiri memandangi bunga. Itu bisa berlangsung seharian. Serta sesekali melamun, tanpa ada siapa pun yang mampu mencegah atau meminta dirinya berhenti melakukannya.

Advertisement

Orang tua Asih tahu itu. Maka merekalah satu-satunya yang tidak heran ketika melihat Asih bergelagat seperti disebutkan, sembari ikut mengamati Bunga Agustus yang bermekaran di pagar rumah yang tak terlalu kokoh itu. Dasar Asih, tetap saja, pikir mereka. Selalu begitu.

Autism. Itu kata dokter. Tapi Ayah dan Ibu Asih tak pernah mampu menjelaskan perkara itu kepada para tetangga. Jadinya, para tetangga, sejak puluhan tahun lalu, mengatai Asih gadis tak waras. Berkali-kali datang seruan dan terkadang paksaan dari warga sekitar yang prihatin, supaya keluarga Asih membawanya ke RSJ daripada nanti membiarkannya bertingkah. Tapi itu tak pernah mereka dilakukan.

Pernah sekali, tabungan ayahnya dari upah memotong kayu berhasil didapat untuk biaya berangkat ke kota. Jarak desa Asih dengan kota yang cukup jauh membuat ongkos perjalanan selalu tampak mahal sehingga perlu perlahan-lahan menabung dulu biaya perjalanan dan obatnya.

Dari perjalanan yang lantas sampai ke sebuah rumah sakit di kota itu, orang tua Asih bisa mengetahui apa penyakit yang diderita Asih. Penyakit bernama Autism, namun mereka tak mengerti detailnya. Sang dokter yang memeriksa Asih merekomendasikan banyak hal, tapi sama dengan saran seorang dukun di desanya, mereka harus rutin melakukan pengobatan. Sebuah perkara yang tak mampu semudah itu mereka upayakan, terlebih di ongkos. Asih kemudian tak pernah berobat lagi hingga kini usianya beranjak 30 tahun.

Bermula ketika Asih masih berusia empat tahun. Teman sepermainannya di taman kanak-kanak (TK), untuk kali pertama menemukan hal tidak wajar dalam diri Asih. Ia tak mampu berbicara, dan selalu tak mengerti cara bersembunyi ketika bermain petak umpet.

Akan tetapi hanya satu orang teman saja yang akhirnya menyampaikannya keanehan Asih itu kepada para guru TK. Sang guru kemudian banyak berasumsi soal penyakit yang diderita Asih. Sayangnya, pesan sang guru untuk menjaga Asih agar tidak dirundung tetap tak mampu menyelamatkannya, karena Asih selalu menjadi bahan ejekan karena sikap anehnya itu ketika berkumpul dengan sebayanya.

Di usianya ketika masuk sekolah dasar (SD) pun, ketika kawannya berlomba berebut kursi paling depan, Asih baru masuk kelas pukul delapan pagi.

“Ia tidak mau minum air sedikit pun, pak guru. Ini botol air, saya mohon ajak dia minum,” kata ibunya kepada guru SD Asih.

Meski sampai selesai waktu bersekolah Asih tetap tak mau menenggak setetes pun. Atas hal itu teman sekelasnya kerap mengejeknya dengan mencekokinya air atau menyiraminya air seember ketika pulang sekolah.

Dua minggu setelahnya, Asih tak pernah lagi datang ke sekolah. Ia tetap membisu, tanpa minum, selalu marah ketika diajak ke sekolah, murung, dan tak mau melakukan apa pun. Kecuali Bunga Agustus di pagar rumahnya mengundang minatnya. Ia selalu memandanginya sambil duduk di sebuah sofa tua penuh lubang, dekat jendela ruang tamunya. Seharian, sendirian, tanpa bicara, sampai harus disuapi makan di tempat itu agar ia mau makan.

Pagar rumah Asih terbuat dari batang bambu sisa usuk. Ayah Asih lewat keahliannya sebagai perajin kayu lantas menggantinya dengan kayu-kayu trembesi yang diukir, lalu menanaminya dengan tanaman merambat lain. Jadi selain Bunga Agustus, ada bunga lain di sekitarnya, ada pula Lidah Mertua, serta beberapa petak rumput. Dengan itu harapan Ayah Asih adalah ingin menghibur anaknya yang sejak peristiwa perundungan waktu SD dulu, selalu mengurung diri dalam rumah melakukan kebiasaan anehnya. Sang ayah sebenarnya pernah mencoba memindahkan sofa ‘Asih’ supaya jauh dari jendela. Tapi itu malah membuat Asih mengamuk dan meronta-ronta di lantai. Setidaknya dengan menghias pagar, hal baik telah diusahakan, pikir sang ayah.

Dusun tempat Asih tinggal, pernah menjadi tempat Kuliah Kerja Nyata (KKN) sebuah universitas. Rombongan mahasiswa berdatangan dari rumah ke rumah, dengan agenda menyapa warga satu per satu. Ketika mahasiswa itu sampai ke rumah Asih, seakan tumpah segala uneg-uneg, Ibu Asih menceritakan kondisi anaknya sambil menangis kepada anak-anak muda yang tidak dikenalnya itu. Usia mereka mungkin 10 sampai 12 tahun lebih muda dari Asih. Mereka mengatakan, selama satu bulan di desa itu, mereka akan melakukan sebisa mungkin untuk menolong. Kebetulan ada mahasiwa yang mendalami penyakit mental, perempuan bernama Ananda.

Esoknya pasca tangisan itu, para mahasiswa KKN tadi mem-plot dirinya ke beragam aktivitas. Ada yang membantu bertani, membersihkan ini dan itu, dan mengajar sekolah dasar. Ananda selalu datang ke rumah Asih dan menemaninya. Sikap Asih selalu abai serta pemarah mendapati teman barunya itu, namun tentu sebagai calon pengasuh anak bekebutuhan khusus, Ananda bisa sabar.

Ananda menyadari satu hal yang meningkatkan semangatnya untuk menolong Asih, ketika tanpa suatu rencana, Iwan, rekannya, mengajak anak SD setempat belajar di luar ruangan kelas bertema alam sekitar dengan objek pagar rumah Asih yang terukir dan dipenuhi bunga merambat. Iwan menunjukkan beragam bunga, Delima, Lidah Mertua, dan Bunga Agustus yang waktu itu sedang musimnya karena bertepatan dengan waktu KKN Ananda yang diadakan pada bulan Agustus.

Dari ide belajar outdoor, serta izin dari Ayah Asih, halaman rumah itu lalu disulap menjadi sebuah wahana belajar. Iwan menjadi pengajar utama, dengan sikap cerianya yang mampu membuat keadaan kelas outdoor itu menjadi menggembirakan dan disukai anak-anak.

Kegiatan belajar mengajar di halaman rumah Asih ajaibnya mengubah sikap Asih, matanya tampak antusias daripada biasanya yang selalu murung dan berdiam diri. Menyadari hal itu, tanpa bertanya Ananda mengajak Asih ikut belajar di sana. Dan Asih pun dengan tanpa marah-marah mau membaur, meski itu adalah pelajaran untuk anak SD. Iwanlah yang bijak, mampu membuat suanan anak-anak muridnya tidak memandang aneh Asih. Sampai-sampai anak didik Iwan, diiringi candaan, mengejek Iwan sebagai pacar asih karena terus-terusan membela perempuan aneh itu. Dasar anak-anak, pikir Iwan.

Asih bahkan kemudian telihat aktif menjukkan bahasa isyarat tanda kalau ia sedang ingin tahu, ingin bertannya, dan lain-lain hal. Ia begitu riang tidak seperti biasanya. Adrenalin muda Ananda bergejolak mengamati keberhasilannya mengarahkan Asih. Hatinya, penuh pada pikiran keberhasilan karena mampu memberi pelecut kemajuan pada sikap Asih. Suatu pengalaman yang baik untuk keberlanjutan ilmu keahliannya.

Sudah nyaris satu bulan kelas outdoor dadakan itu digelar di depan rumah Asih. Asih tak pernah ketinggalan turut bergabung setiap harinya. Ayahnya sampai membelikan pensil dan buku, serta menawari makan siang kepada Iwan dan Ananda setiap hari, setelah melihat keriangan yang dialami anaknya gara-gara dua mahasiswa itu.

Sampai akhirnya di satu hari sebelum waktu pengabdian KKN selesai. Para mahasiswa itu berpamitan kepada warga desa sebagai penanda berakhirnya program KKN mereka di dusun. Tak terkecuali Ananda dan Iwan, yang juga berpamitan kepada Asih, orang tua Asih, serta murid-muridnya.

Sesi kelas terakhir diadakan sebelum perpisahan. Entah kenapa di saat-saat terakhir seperti itu, Asih tak pernah berhenti memandangi Iwan. Ananda yang menyadarinya lalu menyimpulkan sesuatu. Tawa kecil muncul di bibirnya. Pun selepas kelas berakhir, semua anak-anak kompak menangis karena akan segera ditinggalkan oleh Iwan. Sementara Asih, kendati tak tampak menangis, tapi wajahnya tak pernah lepas dari Iwan. Haduh-haduh, pikir Ananda disertai tawa kecil.

Ketika anak-anak pulang ke rumah masing-masing. Iwan dan Ananda diminta orang tua Asih beristirahat dulu di rumah. Di situlah Asih, mendadak duduk di sebelah Iwan, dan perlahan bergerak memegang tangan Iwan erat-erat. Sebuah sikap, yang sontak mengundang gelak tawa semua orang. Ananda sedikit terpingkal. Orang tua Asih malu-malu keheranan.

“Asih, ngga boleh gitu nak ke nak Iwan,” kata ibu Asih melihat sikap anaknya kepada Iwan.

Tapi Asih masih tetap tak mau melepaskan gengamannya dari tangan Iwan.

Ananda merundung Iwan, “Ciye.”

“Mbak Asih, Iwan harus pamit,” goda Iwan.

Asih justru tambah memberontak. Menggerutu tanpa suara. Suara tawa kemudian terdengar dari kedua mahasiswa itu. Ibu Asih lalu membuat suasana kemudian menjadi serius.

“Asih! Sudah,” teriak ibunya sedikit menarik tubuh Asih agar menjauh.

Ananda menyela, “Tidak apa-apa, bu. Justru itu respon yang bagus dari Asih.”

“Saya tahu, nak. Tapi kamu sama Iwan kan, pacaran to?”

Asih menoleh kepada ibunya, keheranan. Wajahnya jelas menampakkan ekpresi bertanya-tanya apa maksud kata “pacaran” itu.

“Pacaran, nduk. Cinta,” ibu asih memeragakan gerakan diri: bersandar di suaminya, kepada Asih sambil menambahkan, “Menikah, jadi ayah, dan jadi ibu. Makanya nggak boleh. Sini ayo, berterima kasih, jangan dekatin nak Iwan. Didoakan ya mereka berjodoh.”

Asih, seakan ia mengerti gerakan tangan sekilas disertai penjelasan ibunya, dengan segera melepaskan gengamannya dari tangan Iwan dan meninggalkan ruang tamu itu menuju kamarnya. Tampak sekilas muka murung terlihat dari wajahnya yang tertegum.

“Sudahlah, nanti juga diam sendiri,” ujar Ibu Asih kepada Iwan dan Ananda.

Pemandangan itu terasa canggung. Memang benar kalau ia bercerita kalau ia dan Iwan telah berpacaran serta berniat menikah seletah lulus kepada Ibu Asih, namun Ananda kaget ibu Asih sampai harus menyampaikannya. Bukan kalimat yang bagus untuk menjadi penjelasan, pikirnya, segalanya akan semakin sulit untuk Asih berkembang lagi.

Ia mencoba memahami, mungkin maksud ibu Asih mengatakan itu supaya Asih tidak menghayal sesuatu berlebihan. Tetapi Ananda tetap menyayangkannya, karena Asih telah menunjukkan banyak kemajuan daripada sikap acuh dan murungnya selama ini semenjak mengenal Iwan.

Setelah sekian banyak usaha mengembalikan keceriaan Asih, termasuk janji bahwa Iwan dan akan kembali ke rumah Asih untuk penelitian skripsi, Asih tetap tak lagi kembali menjadi ceria dan mengacuhkan mereka berdua. “Kadang aku tak mengerti ada apa di dalam dirimu, Wan. Lihatlah, Asih mencintaimu,” pikir Ananda.

Janji kembali untuk skripsi sepertinya gagal ditepati mereka Iwan dan Ananda. Mereka tak pernah kembali. Nomor telepon Ayah dan Ibu Asih yang sudah diberikan pun tak pernah dihubungi. Asih masih tetap dengan kebiasaanya di sofa yang semakin lusut di dekat jendela ruang tamunya itu. Memandangi bunga merambat yang tumbuh di pagar depan rumahnya. Ia pun selalu murung. Setiap hari. Seolah tak akan ada senyum lagi setelah kebersamaan singkatnya dengan Iwan. 

Ibu Asih sempat merasa bersalah dengan apa yang ia katakan kepada Asih. Terlintas di pikirannya untuk menarik kata-katanya itu kalau ia bisa. Ada gerutu di pikiran Ibu Asih, tapi bagaimana lagi, bukankah dengan itu sekarang Asih akan mengerti posisinya sebagai orang tidak normal.

Rasa menyesal yang semakin menjadi-jadi terutama memasuki bulan agustus. Bulan ini selalu membuat Asih terlihat berbeda daripada bulan-bulan lain. Selalu ada senyuman yang tergurat di wajahnya, diduga disebabkan Bunga Agustus di pagar rumahnya yang masuk musim bermekaran.

Asumsi yang menguat ketika Bunga Agustus berguguran di akhir bulan, senyum itu pun turut menghilang berganti jadi murung. Murung yang akan bertahan sampai Agustus di tahun depan. Tuhan, aku berbuat kesalahan, pikir Ibu Asih.

Sudah enam tahun berlalu sejak program KKN itu. Asih kini telah berusia nyaris kepala empat. Tak ada remaja yang mau mengawininya. Ia pun masih saja tak mampu mengucapkan sepatah kata dengan jelas. Tubuhnya kurus keriput, mungkin karena kekurangan air. Kali itu terjadi adalah Agustus keenam pasca kepergian Iwan dan Ananda.

Bunga Agustus terlihat jingga dan rimbun dari pandangan mata Asih sekarang. Asih mengambil napas panjang, kemudian dihembuskannya perlahan. Tidak seperti prasangka, ia tidak tersenyum. Pacarku, aku harus bagaimana? Tanya Asih dalam hati, diiringi isak tangis.

Surabaya, 16 Agustus 2018

***

 

Penulis: Danang Arganata

(Tinggal di Trawas, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur)

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here