Melihat Koleksi Museum Islam Indonesia KH Hasyim Asy’ari

0
347
Advertisement

idealoka.com – Museum Islam Indonesia KH Hasyim Asy’ari (MINHA) di Kabupaten Jombang, Jawa Timur, diresmikan Presiden RI Joko Widodo (Jokowi), Selasa, 18 Desember 2018. Museum ini bisa dibilang museum Islam terbesar di Indonesia yang dibangun dengan dana yang cukup besar yakni Rp30 miliar.

Museum dibangun tiga lantai namun saat diresmikan koleksi museum baru terisi  di lantai dasar, itu pun masih belum begitu banyak koleksi yang ditampilkan. Simbol-simbol Islam mendominasi desain interior di dalam museum termasuk ornamen-ornamen yang ada di dalam bangunan.

Advertisement

“Salah satunya ornamen berbentuk kaligrafi Arab yang ditempel di tembok ruang lobi sebelum masuk ruang utama,” kata salah satu anggota tim arsitek dan desain museum, Aing R. Nayadilaga.

Salah satu koleksi museum berupa cogan yang digunakan di ujung tombak regalia Kesultanan Riau Lingga.

Ornamen kaligrafi Arab berwarna emas itu merupakan bacaan zikir tasbih, tahmid, dan takbir. “Masing-masing bacaan ada 33 ornamen, jadi totalnya ada 99 ornamen kaligrafi tasbih, tahmid, dan takbir,” kata Aing yang merupakan alumni Institut Teknologi Bandung (ITB) dan dosen Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas Trisakti ini.

Masuk ke dalam ruang pameran museum terdapat beberapa koleksi benda atau artefak baik asli maupun duplikat diantaranya mangkok dari Tiongkok, prasasti, mahkota, lontar, kitab kuno, bendera lambang kerajaan Islam di nusantara, peralatan gamelan, dan sebagainya. “Ada yang asli dan duplikat,” kata salah satu petugas keamanan museum.

Salah satu koleksi museum berupa mahkota dari salah satu kesultanan Islam di nusantara.

Selain koleksi artefak, museum juga menampilkan gambar dan narasi singkat tentang sejarah masuknya Islam di beberapa pulau di Indonesia sampai terbentuknya kerajaan-kerajaan Islam dari Aceh hingga Maluku.

Di dalam museum juga terpasang gambar tokoh-tokoh Islam era kemerdekaan hingga pasca kemerdekaan dari berbagai organisasi masyarakat baik Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Syarikat Islam, Masyumi, dan lain-lain.

Koleksi museum berupa mangkok dari Tiongkok yang diperjualbelikan di nusantara

Museum ini dibangun di atas lahan milik Pemerintah Kabupaten Jombang seluas 4,9 hektar di Desa Cukir, Kecamatan Diwek, sekitar 500 meter di selatan atau belakang Pesantren Tebuireng. Museum ini dibangun dengan dana APBD Provinsi Jawa Timur dan APBN Rp30 miliar. Pengelolaan museum ini ke depan akan melibatkan unsur pemerintah daerah dan pusat.

Pengasuh Pesantren Tebuireng yang juga penggagas museum, KH Salahudin Wahid atau Gus Solah, mengatakan museum ini bisa jadi pusat informasi mengenai proses masuknya Islam di nusantara hingga menjadi Indonesia sebagai negara dengan jumlah umat Islam terbesar di dunia.

“Kita perlu memberikan informasi pada masyarakat bagaimana Islam itu datang ke nusantara dengan cara damai tanpa dukungan militer dan politik, semata-mata berdakwah dan berniaga,” ujar Gus Solah. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here