Mendulang Uang dari Pelepah Pisang

Advertisement

idealoka.com (Banyuwangi) – Senyum malu gadis desa dan tangan terampil terlihat di antara himpitan alat tenun dari kayu. Bukan benang yang mereka tenun, melainkan serat pelepah pisang.

Unik, langka, dan eksotis. Begitu kira-kira ungkapan yang pantas terlontar setelah melihat kerajinan tenun dari serat pelepah pisang Abaca.

Advertisement

Nama pisang Abaca mungkin asing di telinga kita. Tanaman asli Kepulauan Filipina dan Mindanau ini memang memiliki serat tipis tapi sangat kuat.

Abaca termasuk keluarga pisang-pisangan tetapi tidak menghasilkan buah yang bisa dikonsumsi.

BACA : Ndog-ndogan, Cantiknya Hiasan Telur Maulud Nabi di Banyuwangi

Karena tidak mudah putus, serat Abaca banyak dimanfaatkan untuk bahan baku tali tambang, kerajinan, dan mebel. Bahkan, serat Abaca menjadi bahan baku campuran uang kertas.

Sebuah usaha kerajinan yang terletak di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi sekitar lima kilometer barat kota Banyuwangi menekuni tenun serat Abaca.

Semua pekerja yang berjumlah sekitar enam orang adalah wanita yang masih muda dan warga sekitar. Karakter wanita yang telaten dinilai cocok menekuni usaha ini.

Salah seorang pekerja senior, Yanti Dwi Lestari, menuturkan kerajinan serat Abaca milik majikannya, Setiawan Subekti, sudah berdiri sejak delapan tahun yang lalu atau sekitar tahun 1999.

BACA : Bingung dengan Terjemahan Bahasa Using? Buka Situs Ini

Saat itu, jumlah penenun mencapai 12 orang namun kini tinggal separo karena mereka ada yang tidak telaten atau berkeluarga.

“Budidaya pohon pisang Abaca ini ada di Desa Bayu Kecamatan Songgon. Kita hanya menerima seratnya dan kita tenun,” ujar Yanti, Rabu, 13 Juni 2007. Yanti bekerja sejak usaha tenun serat Abaca ini didirikan.

Serat Abaca yang dikirim biasanya sebanyak 25 kilogram untuk digunakan sebagai bahan baku selama dua minggu.

Menurut Yanti, proses pertama pembuatan tenunan adalah memasang benang dan memasukkannya ke dalam alat tenun yang masih tradisional terbuat dari kayu. Setelah itu, tiap helai serat disisipkan dan ditenun hingga menjadi satu produk tenunan.

Hasil tenunan biasanya berupa taplak meja, tirai, tatakan makan, dan bantalan kursi. Yanti mengatakan dalam sehari seorang pekerja bisa menghasilkan enam buah tatakan makan, tiga taplak, dan satu tirai. Harga jual kerajinan tenunan dari serat pisang Abaca ini terbilang murah saat itu.

BACA : NEKA, Mainan Bongkar Pasang Berbasis Budaya Karya Mahasiswa Ubaya

“Tatakan makan Rp12.500, taplak meja Rp25 ribu, bantalan kursi Rp50 ribu, dan tirai Rp150 ribu,” tutur Yanti.

Sejumlah perusahaan atau perseorangan dari berbagai kota sering memesan tenunan serat Abaca seperti dari Jakarta, Surabaya, Bali, dan lain-lain.

Bahkan wisatawan asing banyak yang mampir ke tempat kerajinan ini untuk membeli di antaranya dari Amerika, Australia, dan Belanda. Kerajinan tenun serat Abaca juga sudah mengikuti berbagai pameran di kota-kota besar di Indonesia.

Sayangnya, upah para pekerja ini sangat rendah saat itu. Untuk satu tatakan meja, taplak, bantalan kursi, dan tirai masing-masing hanya diberi upah Rp2.000, Rp4.000, Rp10 ribu, dan Rp15 ribu.

BACA : VIDEO: Koleksi Perhiasan Emas dan Permata Majapahit dan Sebelum Majapahit

Salah seorang pekerja, Sumiyati, mengaku baru sebulan bekerja sebagai penenun serat Abaca. Meski penghasilannya tak seberapa, gadis lugu ini mengaku senang karena bisa mencari uang sendiri.

“Pekerjaan yang paling sulit saat memasang benang pada alat tenun. Kalau ada benang yang menyisipkannya salah, ya dibongkar lagi,” katanya.

Sumiyati bersama penenun yang lain bekerja sejak jam 7 pagi hingga jam 4 sore. Sedangkan siangnya, mereka istirahat. (*)

Penulis & Foto: Ishomuddin