CERPEN: Tamu Penting

0
247
Advertisement

Seperti sebuah sumber air,
sekali mancur,
tidak ada yang tahu kapan habisnya

Jangan dipaksa berhenti dengan cara dibendung
Jangan disalah-salahkan karena telanjur mengalir

Advertisement

Aku mencintainya sampai akhir hayat
Meski sampai sekarang,
tidak pernah tahu dimana dan bagaimana dia.

Sepenggal puisi di atas tertulis pada sebuah surat, terselip di dalam amplop berisi puluhan lembar uang rupiah yang diterima Suyut pagi ini. Alamat pengirimnya berasal dari Jakarta. Penulisnya adalah Haryo, cucunya. Angin berhembus kencang menerpa ribuan hektar pohon jati di sekitar rumah Suyut, saat tukang pos mengantarkan surat itu kepadanya. Suyut sempat menduga bahwa angin kencang tersebut akan membawa kabar baik, dan meyakininya dengan kedatangan surat itu.

Dari dalam rongga dada Suyut, timbul sebuah rasa bahagia. Ia yakin cucunya kini hidup mapan di Jakarta dengan bukti segepog uang yang ia terima pagi ini, yang diperkirakan cukup kalau hanya sekadar makan dan minum selama dua sampai tiga bulan. Tetapi di samping itu, di sebuah sudut di rongga dadanya seperti ada sesuatu teriris sedikit kesedihan disebabkan isi suratnya. Suyut tidak hafal berapa usia cucunya sekarang. Tetapi dengan adanya sebaris puisi itu, dia cukup kuat keyakinan untuk beranggapan kalau cucunya pasti belum menikah.

“Neng, bikinkan kopi,” teriak Suyut kepada seseorang di dalam rumah.

Seorang perempuan berusia renta lantas keluar rumah, sambil membawa sebuah gelas cangkir berisi kopi panas, lalu meletakannya di sebuah kursi panjang dari bambu di beranda rumah.

“Ada apa mas?” tanya Wati kepada suaminya setelah merasa heran, melihat sang suami hanya berdiri bengong sambil memegang amplop yang telah terbuka segelnya.

“Haryo, neng, dia ngirimi kita surat,” jawab Suyut.
“Ya Allah, akhirnya Haryo ngasih kabar.”

Tidak memberi kata lain, Wati menyambar amplop tersebut dan membawanya ke dalam rumah. Suyut menduga Wati pasti hendak membacanya di dalam kamarnya untuk menyembuyikan tangisan yang bisa saja keluar dari matanya agar tidak tampak olehnya. Itu sudah menjadi kebiasaanya, setiap kali Haryo mengirimi surat.

Sementara Suyut kemudian menempatkan tubuh rentanya duduk di kursi, tepat di samping sencangkir kopi bikinan Wati.
Suyut menyeruput kopi panas pahit itu, sambil membayangkan apa akan ada tamu lain hari ini, yang tidak berbentuk sepucuk surat. Usianya, -yang kini telah menginjak 73 tahun-, sepertinya menggerogoti kemampuannya berpikir saat ia mencoba mencari memori di dalam otaknya, tentang kapan kali terakhir rumahnya dikunjungi tamu.

Suyut bahkan tidak mampu mengingat hari ini hari apa, dan tanggal berapa. Satu-satunya memori yang tersimpan terkait peristiwa akhir-akhir ini adalah ketika ia datang ke kantor kecamatan bersama puluhan warga setempat, untuk menyaksikan pidato Presiden Soeharto tentang keberhasilan program KB yang menggema dari televisi.

“Ah, sepertinya sekarang masih di awal tahun baru,” pikirnya.

Wati tiba-tiba muncul, membuyarkan lamunan Suyut dengan cara menampakkan diri mengenakan pakaian serba rapi: kerudung, tas pinggang, dan daster yang bau parfum. Suyut sontak kaget dengan penampilan istrinya tersebut.

“Arep nang endi?” tanya Suyut kepada istrinya.
“Kecamatan,” jawab Wati.
“Ngapain?”
“Aku mau beli kertas, sekalian ke kantor pos.”
“Jauh, neng.”
“Ben to, kamu ini jadi kakek ngga peka apa? Cucumu ngirimin surat penting, harus segera dibales,” Wati menjawab dengan nada lebih keras, “…Aku mau minta supaya Haryo pulang saja.”
“Loh, kenapa?”
“Sampean ini piye to? Inget sampean umur Haryo berapa sekarang?”
“Ora, Neng.”
“33 tahun, kuwi satu-satuya keturunanmu yang tersisa lho, mas. Biar dia pulang ke rumah saja ngantiin sampean ngerawat kebun, nanti tak nikahkan sama Rumilah, gadis dari kampung bawah.”
“Ben to neng dia di Jakarta, dia bisa hidup dan mapan kok di sana.”
“Alah, sak karepmu mas, aku tetep budal.”
“Jalan kaki?”
“Kapan sampean pernah punya delman?”

___

Waktu berubah siang dan angin tidak lebih kencang dari pagi hari. Suyut masih duduk di kursi sambil ditemani kopi yang sudah dingin. Puluhan batang jati yang kini dedaunannya lebih diam, menyumbang suasana untuk membuatnya lebih jauh melamun.

Suyut masih mengingat cerita pohon-pohon jati yang ia lihat sambil melamun itu, di masa mudanya, saat Suyut mungkin berusia lebih dari 25 tahun atau saat yang sama memiliki seorang anak berusia lima tahunan. Satu rombongan Tentara Jepang pernah datang ke kampungnya di daerah pegunungan ini di waktu-waktu itu. Rombongan itu datang untuk meneliti kampungnya, serta mengajaknya sebagai pemandu masuk ke dalam hutan. Dari petualangan itulah akhirnya Kolonial Jepang memutuskan untuk menanami hutan kampung Suyut dengan pohon akasia, beberapa tambahan kopi di bekas perkebunan kopi semasa penjajahan Belanda, serta pohon kapas, dan menjadikan kampung bernama Kandangan ini sebagai salah satu yang terbanyak penanamannya. Ia kemudian diajak lagi ke sebuah hutan yang agak jauh di wilayah utara kabupaten, yang Jepang kemudian memutuskan untuk menanaminya tembakau.

Suyut lantas lebih sering bepergian dengan garnisun bersama tentara Jepang dan beberapa penerjemah setelah kerjasama mereka itu. Ia diajak bersama belasan pemuda pribumi dari berbagai daerah, yang punya tugas sama seperti yang ia lakukan di Kandangan dalam satu rombongan. Rombongan itu kemudian berkelana ke berbagai wilayah hutan di Pulau Jawa, seperti di daerah tenggara dan di barat. Beberapa tentara Jepang ada yang sudah fasih berbahasa melayu, mengajarinya cara bercocok tanam dan mengolah hasil perkebunan.

Pada tahun 1945, Hiroshima dan Nagasaki dibom sekutu. Semua tentara Jepang, termasuk yang ada di Rombongan Suyut, ditarik kembali pulang. Hal itu membuat kebun-kebun binaan rombongan tadi akhirnya dikelola masyarakat setempat. Suyut pun ikut dipulangkan untuk kembali tinggal bersama Wati, istrinya. Sementara lantaran dianggap bepengalaman oleh warga sekitar karena berkawan dengan serdadu Jepang, ia kemudian diminta mengajar di SD dekat rumahnya, yang saat itu, baru ada kelas satu.

___

Suyut, ternyata sangat menyukai profesi barunya itu. Sampai ia lupa, bagaimana perkembangan jaman ketika Republik Indonesia berdiri. Kebun-kebun peninggalan Jepang di berbagai daerah itu, termasuk yang ada di Kandangan, mulai banyak yang lenyap. Kini, kebun di Kandangan hanya menyisakan kopi-kopi sisa Belanda dan pohon jati yang memang sudah ada sejak jaman nenek moyang.
Sementara dengan profesinya sebagai guru, rupanya membuat Suyut mendapati lebih banyak pengalaman baru meski tanpa bertualang. Seperti: kedatangan banyak tamu, yang tidak segan berkunjung ke rumahnya, meski posisi rumahnya agak jauh dari perkampungan dan sedikit masuk ke hutan, dua sampai tiga kali seminggu.

Tidak hanya banyak, tamu juga datang berbagai macam dan berasal dari berbagai daerah. Ada yang datang dalam keadaan normal seperti minta diajari menaman pohon. Ada pula yang datang dalam keadaan aneh karena mengaku-ngaku pejabat dan mata-mata. Tetapi itu jaman dulu. Sekarang, rumahnya sepi selaiknya kuburan. Satu-satunya yang membuat gaduh hanyalah peralatan dapur ketika istrinya memasak.

___

Suyut, mencoba mengingat kali terakhir ia menerima tamu. Mungkin sekitar sepuluh tahunan lalu. Waktu itu ia sempat mengira Haryo tiba-tiba pulang. Tapi prediksinya salah. Sebab yang datang merupakan seseorang yang mengaku sebagai pegawai pemerintah, yang kemudian menanyainya, “Apa benar Soekarno pernah tinggal di Kandangan?”

___

Istrinya belum juga pulang. Suyut pun belum juga mau beranjak dari duduk, sambil menyemai harapan di khayalannya, menunggu barangkali akan kedatangan seorang tamu. Ia sebenarnya berencana menengok kebun, tetapi kemudian muncul sedikit rasa malas, yang membuatnya memilih lebih tekun mendalami ingatannya, yang mulai kabur karena usia, sambil melamun.

“Ya Allah, aku lupa,” teriak Suyut tiba-tiba. Seperti teringat sesuatu yang menurutnya penting. Hal itu membuatnya secara refleks memukul kursi kayu dengan telapak tangan. Cangkir kopinya sempat melompat. Beruntung tidak jatuh ke tanah, “…dua hari yang lalu, ada wartawan kesini. Duh, aku mulai pikun.”

Ia akhirnya teringat, saat ini sedang masuk periode bulan apa, bukan Januari, melainkan bulan September. Sebab wartawan yang datang dua hari lalu tersebut meminta keterangan kesaksiannya selama peristiwa di periode sejarah negara pada tahun 1965 dan tahun 1948 di Kandangan.

“Tahun 1965, saya kedatangan tamu. Dia adalah salah satu rekan saya bertualang di hutan ketika diajak Jepang. Saat itu, ia menjadi pegawai hotel di kota. Dia datang kemari untuk bertukar informasi, jika Letnal Kolonel Untung berpidato dari siaran RRI yang terdengar di hotel. Itu….. Kalau kisah pembantaian, saya tidak tahu banyak. Ndak ada yang bertamu untuk mengajak saya. Saya yaa di rumah thok, ndak kemana-mana.

Kalau saat 1948… Saya lebih banyak ingat. Waktu itu saya mungkin genap 30 tahun, dan masih mengajar di SD. Anak saya pun bersekolah di sana. Ada berkali-kali tamu datang ke rumah saya, rata-rata yaa, teman saya ketika bersama rombongan Jepang itu.

Mereka memberi tahu banyak hal. Ada yang bilang kalau Republik Soviet terbentuk di Indonesia. Ada juga yang memberi tahu kalau Musso sekarang di Yogyakarta dan bergerak ke kota. Tapi kini mereka sudah meninggal semua, hahaha….

Satu-satunya yang masih menempel di ingatan saya adalah perkataan rekan saya mengajar di SD saat saya undang ke rumah. Namanya Pak Santo, sepertinya masih hidup beliau, embuh sekarang jadi apa dan tinggal dimana.

Waktu itu sore hari, saya pulang dari hutan, dan melihat anak saya kok jadi pendiam saja di rumah. Saya tanya kenapa juga ndak mau cerita. Baru saya ajak Pak Santo ke rumah, dan beliau bercerita jika anak-anak pagi itu dipulangkan lebih awal,” kenang Suyut dalam lamunannya. Mengingat apa yang ia katakan kepada wartawan dua hari lalu. Hanya seorang wartawan waktu itu yang datang. Suyut tidak bertanya, ia wartawan dari koran mana.

“Anak-anak ketakutan sehingga dipulangkan lebih awal. Musso datang ke sekolah. Sambil menepuk dada dan mengangkat tangan, menanyai anak-anak, “Presiden Musso, atau Soekarno?” Lah anak-anak dan Pak Santo kan bingung. Mereka diam aja, sampai beberapa saat kemudian, ada suara tembakan dari luar sekolah membuyarkan rombongan, dan mereka lari ke hutan. Tiga hari setelahnya, baru kami dapat kabar kalau Musso tertembak di Ponorogo,” terang Suyut kepada wartawan, di dalam kenangannya.

Pada waktu tersebut sang wartawan seolah penasaran dengan keterangan Suyut, hingga sampai menanyakan, apakah yang dirasakan Suyut saat Musso datang ke kotanya. “Apa? Perasaanku?” tanya Suyut balik kepada sang wartawan seperti membentak, membuatnya sedikit terguncang. Lalu seolah emosinya keluar, Suyut melanjutkan, “Katakan pada komunis itu, apa lacur yang ada di Madiun sehingga mereka harus menguasai kota kami?”

___

Lamunan tersebut buyar saat Suyut merasakan perutnya mulai keroncongan. Ia juga baru menyadari kalau istrinya ternyata belum pulang. Senja belum turun tetapi ujung cakrawala mulai menampakkan warna kejingga-jingaan melawan warna biru di atap langit. Tidak ada suara gaduh di dapur, sang Istri pasti saat ini sedang menginap di rumah adiknya di dekat kantor kecamatan. Mungkin baru akan pulang saat suratnya sudah selesai dikirim.

____

Suyut mengambil sebilah golok, cangkul, dan caping, lalu berjalan keluar rumah menuju hutan. Kemungkinan ia akan mencari beberapa buah manggis atau nangka untuk dijadikan menu makan malam. Bergegas Suyut masuk ke belantara dan dengan segera menemukan puluhan pohon manggis. Ia merasa akan pulang lebih cepat. Ada tanda-tanda potongan ranting kayu yang ditinggalkan di sepanjang jalan hutan bekas bikinan sang cucu. Hal itulah yang selalu membimbingnya menelusuri hutan, tanpa harus khawatir tersesat, terutama saat usia mulai menggerogoti ingatannya.

Tanda itu dibuat Haryo saat ia masih remaja. Haryo sangat menyukai manggis, dan selalu berkeinginan untuk memetiknya sendiri dari hutan. Ia membuat tanda berupa potongan ranting kayu yang ditancapkan di samping-samping pohon. Ranting kayu itu setinggi lebih dari 50 centimeter, dan haryo memberi cat warna putih di ujungnya. Puluhan ranting kayu tersebut kemudian membentuk semacam jalur perjalanan dari hutan sampai rumah. Haryo pernah mengatakan bahwa itu lebih memudahkan penulusuran menuju pohon-pohon buah yang bagus dan mengantisipasi tersesat.

Haryo sendiri pernah pulang dari hutan sambil membawa dua keranjang manggis pada suatu hari, sekitar 3 bulan sebelum berangkat ke Jakarta. Hal tersebut sempat membuat heran Suyut dan Wati, sebab untuk apa ia membawa manggis sebanyak itu, padahal mereka cuma tinggal bertiga.

Ayah Haryo, Prapto, meninggal sejak ia masih dalam kandungan. Ibunya meninggal saat melahirkannya. Prapto yang merupakan anak satu-satunya Suyut, membuat Suyut tidak punya ketegaan untuk tidak merawat Haryo sepanjang masa tuanya. Haryo sendiri berkembang menjadi anak baik dan cerdas, meski ia lupa kapan kali terakhir Haryo bersekolah.
Di esok paginya setelah memetik dua keranjang manggis itu, Haryo membawa salah satu keranjang pergi entah kemana, tetapi kemudian membawanya kembali pulang dalam keadaan masih utuh. Haryo lantas bercerita bahwa sebenarnya ia ingin memberikan keranjang manggis itu ke seorang perempuan yang sebaya dengannya bernama Sri di kampung tetangga. Tetapi ia akhirnya kecewa dan membawa kembali pulang manggis-manggisnya, setelah mengetahui kenyataan bahwa Sri sudah diangkut ke Jakarta untuk menjadi pembantu rumah tangga.

Tiga bulan pasca cerita sedih itu, berbekal uang yang diperoleh Haryo hasil menjadi kuli pasar, Haryo berangkat ke Jakarta tanpa sepengetahuan kakek dan neneknya. Satu tahun kemudian, sebuah surat datang dengan alamat pengiriman dari Jakarta, berisi kabar Haryo yang sudah sampai di Jakarta, namun belum bisa menemukan Sri. Begitu seterusnya, isi tulisan di surat dari Haryo. Sama topiknya, entah itu setiap setahun sekali, atau setahun dua kali. Pun sama saat surat berpuisi itu, datang pagi tadi.

“Cinta kadang memaksa seseorang memilih jalan yang konyol,” pikir Suyut sesekali menghardik Haryo. Namun tentu rindu dan sedihlah yang lebih banyak ia rasakan.

Senja belum juga datang saat Suyut selesai memetik buah manggis. Tanda-tanda bikinan Haryo terbukti bermanfaat. Ia telah memetik puluhan manggis dan memperkirannya cukup kalau untuk makan malam dan esok pagi. Saat hendak berjalan pulang, ada sedikit ketersesatan menghampirinya di hutan itu, meski ia yakin telah mengikuti tanda yang Haryo buat dengan benar. Mungkin kepikunan Suyutlah yang membuatnya sampai bisa demikian, ia membatin dalam hati.
Suyut lalu meniti kembali tanda ranting kayu dari Haryo yang dibuat puluhan tahun lalu untuk kembali menulusuri jalan pulang. Bebebapa menit kemudian, ia malah seperti sedang menyadari satu hal: ada tanda ranting kayu, di jalur yang tidak dikenalinya.

“Sepertinya ini baru, atau lama tetapi aku yang sudah lupa,” pikirnya.

Dua kilometer lebih ia berjalan mengikuti salah satu tanda ranting kayu itu. Ia ternyata lebih tersesat lagi. Bukannya keluar hutan, ia malah semakin masuk ke dalam hutan, dan menemukan sebuah sumber air.

Ia lalu teringat puisi di surat Haryo. Sumber air itu memancarkan air ke atas dengan deras, tetapi tidak sampai membentuk sungai. Sementara Suyut, kendati menghabiskan seumur hidup di hutan ini, baru kali pertama ia melihatnya. Sebelum-sebelumnya, ia merasa jika sumber air di sekitar lokasi itu belum pernah ada.
“Lho, ternyata di sini ada sumber air,” pikirnya lagi.

Sebuah kesesakan datang menyusutkan dadanya setelah melihat air mancur tersebut. Ia mencoba mengingat Haryo dan puisinya tadi pagi:

Seperti sebuah sumber air,
sekali mancur,
tidak ada yang tahu kapan habisnya

Jangan dipaksa berhenti dengan cara dibendung
Jangan disalah-salahkan karena telanjur mengalir

Aku mencintainya sampai akhir hayat
Meski sampai sekarang,
tidak pernah tahu dimana dan bagaimana dia

Entah keajaiban datang darimana, ingatannya akan tanda rute pulang seperti telah kembali ke dalam benaknya. Lalu dengan perlahan, ia berpaling dari air mancur itu, dan meniti kembali tanda ranting kayu di depannya. Kali ini, ia amat yakin tidak akan tersesat lagi.

Sepanjang perjalanan, Suyut berulang-ulang mengucap dengan lirih, puisi bikinan Haryo secara lengkap, tanpa ada satu pun kata yang terlewat. Sambil mencarikan not-not yang pas untuk liriknya, andai di suatu saat, ia tiba-tiba berkeinginan menjadikannya sebuah lagu.

Suyut, bahkan merasa lebih hafal lirik puisi Haryo yang baru ia baca pagi tadi daripada lirik tembang lokal, yang setiap hari dinyanyikan bersama muridnya saat ia jadi guru. Ia bahkan lupa judulnya, dan hanya ingat sebaris lirik ini:

Kutho omahe cino..
Oro-oro omahe doro..
(Oktober, 2017)

Penulis:

Danang Arganata (Tinggal di Trawas, Mojokerto, Jawa Timur) 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here