PEMBUNUHAN JURNALIS: Investigasi AJI Bantu Polisi Ungkap Pembunuh Prabangsa

0
208
Advertisement

idealoka.comTragedi pembunuhan berencana pada wartawan sekaligus redaktur koran harian Radar Bali (Jawa Pos Group), Anak Agung Gde Bagus Narendra Prabangsa, kembali mencuat setelah kasusnya terungkap tahun 2009 lalu. Prabangsa dibunuh karena berita-berita yang ditulisnya mengenai dugaan korupsi dana pendidikan di Bangli, Bali, yang bersumber dari APBD dan APBN.

Korupsi tersebut melibatkan Nyoman Susrama adik kandung Bupati Bangli saat itu, I Nengah Arnawa. Tragedi itu kembali jadi buah bibir setelah 7 Desember 2018 Presiden Joko Widodo memberi remisi perubahan hukuman Susrama dari seumur hidup menjadi 20 tahun penjara. Susrama adalah perencana atau perancang pembunuhan dengan dibantu anak buahnya.  

Advertisement

Pada saat perkaranya disidik, Susrama adalah calon anggota legislatif (caleg) terpilih dengan suara terbanyak di Dapil Bangli I (Kecamatan Bangli dan Tembuku) dari PDI Perjuangan untuk DPRD Bangli periode 2009-2014. Belum diketahui motif pemberian remisi tersebut, apakah murni prosedur hukum atau bermuatan politis untuk mendulang suara di Pilpres 2019 khususnya di Bangli dan Bali pada umumnya.

Kasus pembunuhan Prabangsa tak hanya memuat aspek kriminal, tapi juga intrik politik dan hukum di tengah proses persidangan. Melihat pentingnya kasus ini, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia dan AJI Denpasar melakukan investigasi dan menyusun laporan 100 halaman yang dibukukan dengan judul “Jejak Darah Setelah Berita”.

Laporan disusun AJI dan didukung Aliansi Pers Asia Tenggara atau Southeast Asian Press Allliance (SEAPA). Laporan ditulis Abdul Manan dan Sunudyantoro serta editor Wahyu Dhyatmika, ketiganya pengurus AJI Indonesia dan jurnalis Tempo. Mereka dibantu beberapa wartawan lokal Bali sebagai periset diantaranya Bambang Wiyono, Rofiqi Hasan (Tempo), Dewi Umaryati, dan Miftakhul Huda.

Berikut ini salah satu bagian laporan tersebut:

Dua hari setelah mayat Prabangsa ditemukan, polisi memastikan bahwa wartawan itu tewas dibunuh. Penyidikan pun dimulai. Untuk mengendus siapa pelaku pembunuhan keji itu, polisi harus mencaritahu dulu motif pembunuhan. Kaitan antara kematian Prabangsa dan berita-berita yang ditulisnya harus ditemukan. Selain itu, polisi juga membuka kemungkinan Prabangsa tewas akibat urusan lain, yang tak ada kaitannya dengan kegiatan jurnalistik.

Sesuai lokasi penemuan jenazah, seharusnya Polres Karangasem yang menangani kasus kematian Prabangsa. Tapi karena keluarga sempat melaporkan kehilangan Prabangsa ke Polwiltabes Denpasar, maka polisi dari kedua wilayah itu bekerjasama mengusut kasus ini.

Tak sampai sepekan setelah polisi mengumumkan kematian Prabangsa akibat pembunuhan, Kapolda Bali Irjen Pol. Teuku Ashikin Husein, menugaskan tim khusus dari Satuan I Direktorat Reserse Kriminal Polda Bali untuk menangani langsung kasus Prabangsa. Ini artinya penyidikan langsung ditangani di level Polda, tak lagi oleh kesatuan polisi wilayah Denpasar dan Karangasem. Tim khusus penyidik dipimpin Kepala Satuan I Direktorat Reserse Kriminal Polda Bali, AKBP Akhmad Nur Wahid.

Aksi jurnalis di Malang mengecam remisi pembunuh jurnalis, 25 Januari 2019.

Dalam waktu singkat, polisi bergerak cepat menghimpun data-data awal. Pemeriksaan saksi dan rekaman percakapan terakhir Prabangsa via telepon menunjukkan bahwa dia sengaja digiring ke “suatu titik”, sebelum akhirnya dibunuh. Polisi juga memastikan bahwa ketika ditemukan, lokasi mayat Prabangsa sudah bergeser sangat jauh dari lokasi awal ketika dibuang. Kesimpulan itu diperoleh berkat bantuan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yang menyediakan data mengenai arah dan kecepatan angin dalam kurun waktu Prabangsa menghilang. Data BMKG membantu polisi melacak tempat pembuangan awal jenazah Prabangsa.

Yang sulit dalam proses penyidikan awal ini adalah menemukan motif pembunuhan. Semua barang bukti yang ada hanyalah yang melekat di tubuh Prabangsa ketika mayatnya ditemukan. Sayangnya isi dompet Prabangsa tak menceritakan apa-apa. Sebuah karcis yang nyaris tak terbaca semula dianggap sebagai bukti penting. Diduga karcis itu adalah tiket penyeberangan kapal. Tapi setelah diperiksa dengan teliti, ternyata karcis itu hanya bekas karcis parkir sepeda motor Prabangsa di Denpasar yang terselip di dompetnya.

Akhmad Nur Wahid sempat memerintahkan timnya untuk memeriksa laut dimana mayat Prabangsa ditemukan. Kapal polisi berkeliling sampai radius satu kilometer dari titik penemuan mayat untuk mencari bukti-bukti lain. Tapi hasilnya nihil.

Informasi dari rekan-rekan sekerja Prabangsa juga sempat menggeser fokus penyidikan ke arah lain. Menurut beberapa kawan dekatnya, Prabangsa sempat terlibat jalinan asmara dengan seorang anggota staf DPRD Bali. Motif perselingkuhan ini sempat diyakini beberapa orang.

Kapolda Bali, Irjen Ashikin Hussein, seolah memastikan hal itu ketika ditanya wartawan beberapa hari pasca penemuan mayat Prabangsa. “Korban tidak sedang menulis investigasi tentang suatu kasus. Korban hanya editor di kantornya,” kata Ashikin, ketika ditanya kemungkinan pembunuhan itu terkait pemberitaan Prabangsa.

“Kami sedang mengembangkan masalah-masalah lain, dan mulai mengerucut,” kata Ashikin lagi ketika ditanya kemana arah penyidikan polisi. Pernyataan itu kemudian ditafsirkan sebagai penegasan bahwa polisi mulai yakin pembunuhan Prabangsa terkait kehidupan pribadi korban.

Tapi belakangan bukti-bukti yang mengarah pada motif asmara itu dinilai tak cukup kuat. Polisi mengaku sudah memeriksa sejumlah orang yang diduga punya kaitan dengan motif itu, dan tidak menemukan kaitan mereka dengan kematian wartawan itu.

Polisi kemudian berkonsentrasi pada hari terakhir Prabangsa di Bangli. Data di provider telepon seluler Prabangsa memastikan dia terakhir kali ada di sana. Sinyal telepon Flexinya terpantau di sekitar Bangli. Penyidik juga menemukan petunjuk bahwa Prabangsa ada janji untuk bertemu dengan seseorang di Bangli, sebelum kemudian menghilang.

Berdasarkan petunjuk itu, polisi mengirim tim khusus ke Bangli. Mereka sempat menemukan dua bercak darah yang diduga terkait pembunuhan Prabangsa. Tapi belakangan temuan itu ditepis karena ternyata bukan darah Prabangsa.

Sebulan setelah penemuan mayat Prabangsa, tim penyidik yang dipimpin Akhmad Nur Wahid sudah memeriksa belasan saksi. Menjelang Maret 2009, polisi sudah memastikan pembunuhan Prabangsa tak terkait kisah asmaranya. Tapi petunjuk yang mengarah ke motif lain masih amat sumir. Polisi seperti kehabisan akal.

Pada titik kritis itulah, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Denpasar, mulai mengambil peran. Dalam pernyataan persnya yang dikutip berbagai media, Ketua AJI Denpasar, Bambang Wiyono, mendesak polisi untuk menuntaskan penyidikan atas pembunuhan Prabangsa. “Kepolisian harus bekerja cepat mengungkap kasus ini. Bisa saja pembunuhan itu terkait masalah pribadi atau dugaan pemerasan, tapi yang penting polisi harus menemukan pelakunya dulu,” katanya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here