Perempuan Rentan Jadi Korban Pelecehan di Media Sosial, Apa yang Harus Dilakukan?

0
153
Pelatihan "Melindungi Diri dari Kekerasan Online" yang digagas AJI Jember dan SAFEnet di Banyuwangi, Minggu, 3 Maret 2019. (Dok. AJI Jember)
Advertisement

idealoka.com – Jaringan Kebebasan Berekspresi Asia Tenggara atau Southeast Asia Freedom of Expression Network (SAFEnet) mendorong masyarakat Indonesia menyadari risiko Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO) di era digital. Peningkatan literasi masyarakat terhadap potensi kekerasan di ranah online dilakukan bersamaan dengan peringatan Februari sebagai bulan aman internet.

Ketua Divisi Hak Kebebasan Berekspresi SAFEnet Ika Ningtyas mengatakan tahun 2017 Komisi Nasional (Komnas) Perempuan menerima sedikitnya 98 laporan terkait KBGO. Namun menurutnya, sebagaimana fenomena gunung es, diyakini masih banyak kasus KGBO yang tidak tercatat atau tidak dilaporkan karena ketidakpahaman atau ketidakberanian korban.

Pelatihan “Melindungi Diri dari Kekerasan Online” yang digagas AJI Jember dan SAFEnet di Banyuwangi, Minggu, 3 Maret 2019. (Dok. AJI Jember)
Advertisement

“Karena perempuan belum menyadari yang dialaminya ketika menjadi korban pelanggaran privasi dengan penyebaran informasi atau foto pribadi, peretasan, dan pembagian konten ilegal,” kata Ika dalam pelatihan “Melindungi Diri dari Kekerasan Online” yang digagas Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) Jember dan SAFEnet di Kafe Isun Ikai, Banyuwangi, Minggu, 3 Maret 2019.

Dalam pelatihan, 28 peserta yang semuanya perempuan diberi penjelasan mengenai risiko KBGO dan cara menghindarinya serta menyikapinya. Selain di Banyuwangi, pelatihan serupa dilakukan di berbagai kota seperti Palembang, Jakarta, Bandung, Surabaya, Pontianak, dan Bali.

Dari pengakuan peserta, masing-masing pernah menjadi sasaran KBGO mulai dari pengiriman konten porno melalui pesan media sosial, pengancaman penyebaran hal pribadi di internet, pemerasan, fitnah, hingga peretasan akun.

Menurut Ika, perempuan lebih banyak menjadi korban karena dianggap lebih lemah dan takut pada ancaman. Pelaku beranggapan perempuan tak akan melawan dan bisa menuruti kemauan pelaku di bawah ancaman misalnya bagian privasinya akan disebar di media sosial jika tak menurut.

Dok. AJI Jember

“Walaupun dia pacar jangan beri foto tanpa busana. Walaupun bilang cinta dia tetap berpotensi menjadi pelaku (kekerasan online),” ujar Ika.

Peserta juga diajarkan beberapa teknik untuk menjaga keamanan informasi pribadi di akun-akun digital termasuk media sosial mulai dari deteksi keamanan password, tips membuat password, setting privasi media sosial, memeriksa keaslian foto profil, hingga menghindari pelacakan tempat.

Salah satu cara misalnya membuat dua kali konfirmasi untuk login dengan gawai baru atau menggunakan berbagai variasi karakter dari password. Namun untuk yang terlanjur menjadi korban kekerasan online disarankan agar melawan dengan upaya hukum.

“Sebagai korban kalau kita diam, pelaku akan melakukan kejahatan terus menerus sehingga mau tidak mau harus melawan,” katanya.

Dok. AJI Jember

Salah satu peserta, Fatmawati, mengatakan pelatihan seperti ini juga penting diberikan kepada orang tua. Sebagai guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), dia melihat banyak orang tua yang menyerahkan gawai atau smartphone sepenuhnya pada anak tanpa memikirkan pembatasan privasi mereka.

“Selama ini orang tua merasa tidak tahu tentang internet sehingga menyerahkan kepada anak. Kalau mereka paham cara menghindari kejahatan online, mereka akan bisa memproteksi anak-anak,” kata Fatmawati. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here