Cara Anak-Anak Terdampak Limbah B3 Memperingati Hari Air Sedunia

0
334
Panitia dan anak-anak Desa Lakardowo peserta lomba menggambar dan mewarnai dalam rangka memperingati Hari Air Sedunia, Minggu, 24 Maret 2019. (Dok. Pendowo Bangkit)
Advertisement

idealoka.com – Puluhan anak tingkat Sekolah Dasar (SD) berbondong-bondong membawa tas berisi peralatan menggambar dan mewarnai mulai dari crayon sampai pensil warna. Wajah ceria tampak dari raut muka mereka meski menyimpan masa suram karena masalah lingkungan. Setelah dijelaskan tema menggambar dan mewarnai hari itu, mereka pun mulai mengeluarkan peralatan yang dibutuhkan.

Waktu telah disediakan bagi peserta yang dibagi dalam lima kategori mulai tingkat kelas 1 sampai 5 SD. Dengan telaten anak-anak memadukan warna satu per satu sesuai dengan karakter obyek yang digambar dan diwarnai.

Advertisement

Lomba menggambar dan mewarnai bagi anak-anak tingkat SD ini digagas komunitas Penduduk Lakardowo (Pendowo) Bangkit dan bertempat di Omah Pendowo Bangkit (OPB), Dusun Sambigembol, Desa Lakardowo, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, Minggu, 25 Maret 2019.

Spanduk besar bertuliskan “Air untuk semua, siapapun kamu, dimanapun kamu. Air adalah hak asasi manusia” jadi latar tempat anak-anak berlomba. Selain memberikan pendidikan lingkungan pada anak-anak, lomba ini juga dalam rangka memperingati Hari Air Sedunia yang diperingati setiap 22 Maret.

Lakardowo adalah desa yang beberapa dusunnya terdampak pencemaran limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) yang dikelola perusahaan pengolah dan pengelola limbah B3 PT Putra Restu Ibu Abadi (PRIA). Sejak tahun 2010 PT PRIA melakukan pengelolaan dan pengolahan limbah B3 di pabrik yang berada di perbatasan Dusun Sambigembol dan Kedungpalang, Desa Lakardowo.

Pabrik PT PRIA di Desa Lakardowo, Kec. Jetis, Kab. Mojokerto, Jawa Timur.

Menurut PP Nomor 101 tahun 2014 tentang Pengelolaan Limbah B3, limbah B3 adalah zat, energi, dan/atau komponen lain yang karena sifat, konsentrasi, dan/atau jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak langsung, dapat mencemarkan dan/atau merusak lingkungan hidup, dan/atau membahayakan lingkungan hidup, kesehatan, serta kelangsungan hidup manusia dan makhluk hidup lain.

Dalam perjalanannya, pengelolaan limbah B3 yang dilakukan PT PRIA bermasalah. Hingga akhirnya pada 2017 Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) menunjuk tim auditor independen untuk melakukan audit lingkungan. Namun rekomendasi audit lingkungan yang ditetapkan dan dipublikasikan pada 2018 dirasa belum adil bagi masyarakat dan tak menyentuh akar masalah.

Salah satu rekomendasinya, tim meminta PT PRIA melakukan pemulihan pada lahan masyarakat yang ditimbun dengan limbah batu bara yang dijual ke masyarakat sebagai material pondasi bangunan atau perataan halaman rumah.

Tim juga menyimpulkan ada beberapa prosedur yang dilanggar PT PRIA dalam proses pengolahan limbah B3 namun tim menyatakan tidak ada korelasi antara pencemaran air tanah di sumur-sumur warga dengan limbah B3 yang ditimbun PT PRIA.

“Dalam hasil audit ada poin-poin pelanggaran yang dilakukan. Hal itu yang akan kita dorong agar PT PRIA diberi sanksi,” kata Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah atau Ecological Observation and Wetland Conservation (Ecoton) Prigi Arisandi.

Akibat sumur-sumur warga yang diduga tercemar, sejak tahun 2017 warga tak bisa lagi menggunakan air sumur untuk keperluan minum, mandi, dan memasak. Sebab anak-anak maupun orang dewasa mengalami dermatitis ketika menggunakan air sumur yang diduga sudah tercemar. “Enggak berani mas, sejak ada pabrik ini begini. Dulu enggak pernah seperti ini,” kata salah satu warga, Siti Mutoharoh.

Kulit anak-anak dan orang dewasa yang mengalami dermatitis (radang kulit) setelah menggunakan air sumur yang diduga tercemar timbunan limbah B3 PT PRIA. (Dok. Ecoton)

Warga yang tingkat ekonominya rata-rata rendah terpaksa terbebani membeli air bersih kemasan maupun secara swadaya mendatangkan air bersih dari wilayah lain. “Hingga saat ini sebagian warga Desa Lakardowo menggunakan air isi ulang yang secara gotong royong didatangkan dari Pacet,” ujar Sekretaris Pendowo Bangkit Heru Siswoyo.

Krisis air bersih inilah yang jadi tema lomba mewarnai anak-anak SD yang digagas Pendowo Bangkit. “Kami mengajak anak-anak untuk mencintai dan ikut melestarikan air yang menjadi hak semua orang,” kata Ketua Pendowo Bangkit Nurasim.

Dok. Pendowo Bangkit

Ketua panitia lomba, Hayatun Zuhro, mengatakan kegiatan ini bagian dari pendidikan lingkungan pada anak-anak. “Melalui lomba menggambar dan mewarnai kami ingin melakukan pendidikan lingkungan kepada generasi muda terutama pelajar SD di Lakardowo untuk selalu menghargai air dan mencintai lingkungan hidup,” katanya.

Mar’atus Sholihah (Dok. Pendowo Bangkit)

Salah satu peserta, Mar’atus Sholihah, mengaku senang dan mengharapkan air yang sehat di Lakardowo. “Saya senang bisa menuangkan ide dalam gambar dan saya berharap agar Lakardowo menjadi bersih dan airnya sehat, banyak pohon dan lestari, ” tutur siswi kelas V MI Nurul Huda ini. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here