FOTO: Taman Kelinci dan Taman Bunga Ini Bisa Jadi Destinasi Wisata Keluarga Anda

0
304
Taman Kelinci Padusan, Desa Padusan, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto.
Advertisement

idealoka.com – Matahari masih cukup menyengat meski waktu sudah beranjak sore. Puluhan ekor kelinci tampak berkeliaran bebas di taman berumput. Beberapa diantaranya bersembunyi di dalam lubang atau rumah buatan karena malu pada pengunjung atau menghindari teriknya panas.

Sedangkan lainnya tampak berlari dan meloncat menghindari anak-anak yang gemes ingin memegang. Selain ingin menyentuh atau menggendong kelinci, anak-anak juga tak canggung atau takut memberi makan kelinci dengan wortel yang diberi petugas penjaga taman.

Advertisement

Begitulah asiknya berwisata di Taman Kelinci Padusan, Desa Padusan, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Pacet dikenal sebagai kawasan wisata karena lokasinya yang berada di dataran tinggi dan diantara sejumlah gunung. Salah satunya gunung Arjuna. Selain Arjuna, Pacet juga berada di antara gunung lainnya seperti Welirang dan Penanggungan.

Taman Kelinci merupakan satu dari beberapa wahana wisata edukasi alam dan permainan anak yang dikelola Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) “Petik Strawberry” di Desa Padusan. Lokasi tempat wisata ini sekitar 23 kilometer atau 30 menit dari Kecamatan Mojosari ibukota Kabupaten Mojokerto atau sekitar 31 kilometer atau 40 menit dari pusat Kota Mojokerto. Jika dari Surabaya, jaraknya sekitar 84 kilometer atau hampir dua jam perjalanan.

Taman bunga dan miniatur rumah unik.

Selain taman kelinci, beberapa wahana wisata lainnya yang ada antara lain kebun petik strawberry, taman bermain anak, kolam ikan dengan mini boat, arena sirkuit motor All Terrain Vehicle (ATV) beroda empat, taman bunga dengan rumah bermain (play house), dan areal berkuda.

Wahana wisata yang dikelola petani ini menempati lahan seluas 2 hektar dengan kontur berupa lembah dan bukit. Di daerah lembah atau lereng bukit ditempati untuk kebun strawberry, taman bermain anak, kolam ikan, taman kelinci, dan arena naik motor ATV. Sedangkan di puncak bukit, pengunjung akan dimanjakan dengan areal berkuda dan taman bunga dengan miniatur rumah bermain yang lucu dan unik.

“Tempat ini dulunya petak-petak sawah atau kebun yang ditanami padi, palawija, maupun sayuran. Sekarang difungsikan untuk wisata yang dimiliki dan dikelola para petani, tanpa investor,” kata salah satu petani yang juga pengelola Taman Kelinci Padusan, Muhamad Zainuri, Jum’at, 9 Agustus 2019.

Zainuri mengatakan awal mulanya beberapa petani merintis kebun strawberry tahun 2015. Lalu kebun strawberry itu dijadikan wisata petik strawberry dengan jumlah pengunjung yang cukup banyak. “Setelah memetik strawberry, pengunjung biasanya langsung pulang. Nah, ini eman (sayang),” ujar Zainuri. Setahun kemudian ia membuat wahana wisata lainnya, taman kelinci.

Ide membuat taman kelinci cukup cerdik untuk menarik pengunjung usai memetik strawberry. “Modal awal saya hanya Rp2 juta dengan jumlah kelinci 10 ekor,” katanya. Sekarang ia sudah memiliki lebih dari 100 ekor kelinci yang juga diternak dan diperjualbelikan. “Sebanyak 40 persen diantaranya ras dari luar negeri seperti Turki dan Inggris,” katanya.

Melihat potensi wisata yang menggiurkan, petani lainnya satu per satu membuat wahana wisata yang berbeda agar variatif dan tidak saling bersaing jika jenis wahananya sama. “Sekarang sudah 12 petani yang bergabung dalam gapoktan dan masih banyak yang akan bergabung,” katanya.

Tiket masuk masing-masing wahana wisata yang dikeloka petani Desa Padusan ini murah meriah, mulai dari Rp5.000 hingga Rp20 ribu per wahana. Tidak ada tiket terusan sehingga pendapatan petani yang juga pengelola wisata hanya didapat dari masing-masing tiket masuk wahana.

Omzet bulanan dari tiket semua wahana yang ada ditambah tiket parkir diperkirakan sekitar Rp30 juta. Para petani terus menata dan memperbaiki fasilitas yang ada dan akan mengembangkan atau menciptakan wahana wisata lainnya.

Menurut Zainuri, ide alih fungsi lahan pertanian jadi wisata itu karena rentannya usaha tani. “Kalau hanya mengandalkan pertanian hasilnya enggak tentu dan bisa merugi,” katanya. Menurutnya, alih fungsi lahan pertanian jadi wisata ini mendatangkan penghasilan lebih baik. “Bisa meningkat 2-3 kali lipat dibanding hasil pertanian,” tuturnya. Meski begitu, para petani masih memiliki lahan pertanian di tempat lain untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Wahana wisata yang dikelola para petani di Desa Padusan ini menarik wisatawan lokal maupun luar kota. “Wahana wisatanya bervariasi dan bernuansa edukasi dan alam serta udaranya sejuk,” kata wisatawan asal Pasuruan, Anas Hafiludin. Ia datang bersama istri dan anak-anaknya. “Kebetulan saya dan anak-anak suka kelinci dan kami baru pertama kali ke sini,” ujarnya.

Salah satu anak, Amira, mengaku senang dengan kelinci-kelinci yang dilepas bebas di Taman Kelinci Padusan. “Apalagi kelinci ras luar negeri, lucu dan menggemaskan. Tadi sempat saya gendong,” katanya.

Taman bunga dan miniatur rumah bermain jadi lokasi favorit wisatawan berfoto.

Wisatawan yang lain, Isti Azza, mengajak dua anaknya yang masih berusia 3 dan 5 tahun. “Ketika berinteraksi dengan kelinci, anak-anak diajarkan untuk menyayangi hewan,” katanya. Anak-anak tampak antusias mengejar kelinci yang lari dan bersembunyi atau memberi makan dengan beberapa batang wortel yang diberikan gratis pada setiap pengunjung taman kelinci.

Arena berkuda dengan latar belakang taman bunga dan miniatur rumah unik.

Tak hanya taman kelinci, areal berkuda dan taman bunga juga jadi wisata favorit anak-anak dan orang dewasa. Anak-anak akan dipandu dengan petugas untuk menaiki kuda berkeliling areal berkuda di atas bukit.

Taman bunga dan miniatur rumah bermain jadi lokasi favorit wisatawan berfoto.

Anda yang suka berswafoto atau selfi juga bisa berpose manja di taman bunga dan miniatur rumah bermain yang unik dan lucu dengan latar belakang pegunungan. “Taman bunga dan rumah bermainnya sangat bagus dan udaranya sejuk, cocok untuk selfi-selfi,” kata wisatawan perempuan yang hobi selfi, Azkiyah. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here