Idealoka Dilatih Deteksi Hoaks Bersama AJI dan Google News Initiative

0
5438
Advertisement

idealoka.com – Idealoka.com jadi salah satu media peserta pelatihan deteksi informasi bohong (hoaks) dan pengecekan fakta yang diselenggarakan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia dan AJI Malang bekerjasama dengan Google News Initiative (GNI) dan Internews di Kota Malang, Sabtu-Minggu, 17-18 November 2018.

Abdi Purmono

“Pelatihan ini sangat bermanfaat terutama bagi kita sebagai jurnalis untuk mendeteksi dan menangkal hoaks yang banyak beredar di media sosial,” kata Anggota Majelis Pertimbangan Organisasi AJI Indonesia Abdi Purmono saat menyampaikan pengantar.

Advertisement

Kegiatan ini rangkaian dari GNI Training Network yang dilakukan Google di beberapa negara termasuk Indonesia. Peserta GNI Training Network adalah jurnalis atau wartawan yang peduli dengan prinsip jurnalisme dalam menyampaikan informasi sesuai fakta dan menolak hoaks serta menjalankan pengecekan fakta atau verifikasi.

Peserta dilatih menggunakan perangkat-perangkat (tools) digital yang diproduksi Google maupun perusahaan lain untuk menelusuri dan memastikan benar tidaknya sebuah informasi baik berupa teks, gambar, atau video yang beredar di dunia maya.

Tools tersebut berupa fitur, fasilitas, sistem dalam website, software, aplikasi, dan sebagainya. Fungsi perangkat-perangkat itu bermacam-macam misalnya untuk mendeteksi sumber kebenaran gambar dengan konteks informasi yang dimuat hingga menelusuri profil seseorang dan informasi yang terekam dalam akun media sosial. Peserta juga dilatih mendeteksi lokasi, waktu, dan jarak sebuah obyek yang berkaitan dengan proses verifikasi atau pengecekan fakta.

GNI Training Network di Malang kali ini diikuti 23 jurnalis dari beberapa kota di Jawa Timur dengan tiga pemateri dari kalangan jurnalis, akademikus, dan programmer yang sudah dilatih Google sebagai trainer.

Lilik Dwi Mardijanto

Training ini untuk belajar mengenali hoaks dan disinformasi. Harapannya untuk menekan peredaran hoaks dan meliterasi publik untuk tidak membagi informasi yang belum tentu benar agar tidak terjadi misleading (kesalahpahaman),” kata salah satu pemateri, Lilik Dwi Mardjianto. Lilik adalah mantan wartawan yang kini jadi dosen dan Ketua Program Studi Jurnalistik Universitas Multimedia Nusantara (UMN), Tangerang, Banten.

Pemateri lainnya, Inggried Dwi Wedhaswary, mengatakan jurnalis maupun institusi media massa multak harus melakukan proses verifikasi atas informasi sebelum diproduksi jadi berita.

“Di media sosial sangat banyak beredar informasi yang belum tentu benar. Media harus melakukan verifikasi, tidak serta merta menjadikannya sumber berita hanya demi mengejar rating atau popularitas berita,” kata jurnalis kompas.com yang juga pengurus AJI Indonesia ini.

Inggried Dwi Wedhaswary (paling kiri)

Inggried mengatakan sekelas media nasional sekalipun masih menayangkan berita yang ternyata sumbernya tidak benar atau hoaks. “Training kali ini adalah bagian dari upaya Google dan AJI membantu media dalam melakukan verifikasi dengan menggunakan perangkat digital,” katanya.

Sementara itu programmer yang juga staf AJI Indonesia, Geril Dwira Kaluku, memberikan tips-tips bagi jurnalis untuk menjaga keamanan perangkat digital, email, dan akun media sosial.

“Misalnya menggunakan kombinasi password yang tingkat kerumitannya tinggi agar tidak mudah dibobol,” katanya. Untuk mengingat beberapa password, menurutnya, ada software atau aplikasi yang bisa dimanfaatkan sebagai ruang digital penyimpan password.

Peserta dan penyelenggara GNI

Moderator yang juga mantan Ketua AJI Malang, Eko Widianto, berharap setelah pelatihan ada tindak lanjut yang konkrit dari peserta. “Salah satunya membentuk jaringan sebagai pengecek fakta dan menyebarkan pengetahuan yang didapat ke masyarakat sebagai bagian dari literasi,” ujar pemimpin redaksi terakota.id ini. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here