NEKA, Mainan Bongkar Pasang Berbasis Budaya Karya Mahasiswa Ubaya

0
281
Brian dan karyanya, NEKA, mainan bongkar pasang berbasis budaya. (Dok. Ubaya)
Advertisement

idealoka.com – Mahasiswa Jurusan Program Studi Desain Manajemen Produk Fakultas Industri Kreatif Universitas Surabaya (FIK Ubaya) Brian Kurniawan Jaya berhasil menciptakan permainan bongkar pasang berbasis adat dan budaya yang disebut NEKA.

NEKA berbentuk miniatur rumah adat Sumatera Barat, Bali, dan Sulawesi Selatan.  Simulasi permainan NEKA ini telah dilakukan di Ubaya Student Center (USC) Kampus Ubaya Tenggilis Jalan Raya Kali Rungkut, Surabaya, Kamis, 21 Maret 2019.

Advertisement

Hobi mengoleksi miniatur memang menjadi kegiatan yang digemari oleh sebagian orang dan bisa menjadi investasi yang menguntungkan di bidang play set. “Saya melihat ada peluang bisnis yang bisa menarik minat kolektor. Selain menjadi hiasan meja di rumah, NEKA bisa dimainkan dengan cara bongkar pasang,” kata Brian. Inovasi permainan bongkar pasang berbasis adat dan budaya ini merupakan karya tugas akhir Brian.

Brian (kanan) dan karyanya, NEKA, mainan bongkar pasang berbasis budaya. (Dok. Ubaya)

Sebutan NEKA berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti macam. Selain itu, NEKA diambil dari kata Bhineka Tunggal Ika yang berarti berbagai macam tetapi tetap satu. Indonesia yang terdiri dari beragam budaya dan adat menjadi inspirasi pembuatan permainan NEKA. “Saya ingin membuat mainan yang bisa menjadi oleh-oleh wisatawan domestik maupun mancanegara ketika berlibur ke provinsi-provinsi di Indonesia,” kata pemuda asli Surabaya ini.

Permainan tiga dimensi (3D) ini terdiri dari mainan rumah adat dan figur boneka dari tiga provinsi di Indonesia yaitu Sumatera Barat, Bali, dan Sulawesi Selatan (Toraja). Tiga provinsi dipilih berdasarkan hasil riset yang telah dilakukan dengan mengunjungi Taman Mini Indonesia Indah (TMII) dan Bali.

Kunjungan tersebut membantu untuk mengamati dan melakukan riset secara langsung terkait replika asli rumah adat di TMII dan rumah adat Bali. Hasil riset pilihan pengunjung paling tinggi adalah provinsi Sumatera Barat, disusul Bali, dan terakhir Sulawesi Selatan. Indikator penilaian berdasarkan pilihan busana, detail ukiran, corak, dan gaya desain rumah adat yang bagus serta dianggap unik.

NEKA, mainan bongkar pasang berbasis budaya karya Brian. (Dok. Ubaya)

Permainan NEKA ini merupakan salah satu alternatif permainan yang ditujukan bagi remaja dan orang dewasa untuk melatih kreativitas dan kesabaran. “Jika ingin membuat rumah adat NEKA, butuh waktu kurang lebih sekitar 30 menit. Disiapkan pula buku panduan yang akan menunjukkan langkah-langkah cara membangun replikasi miniatur NEKA. Setelah rumah jadi, maka kita bisa bermain dengan meletakkan boneka figur di dalamnya,” ujar Brian.

Kesulitan yang dihadapi dalam pembuatan permainan NEKA ada pada tahap 3D Modelling menggunakan aplikasi dan menentukan skala ukuran yang tepat. Ukuran miniatur NEKA berbeda-beda. Miniatur NEKA Sumatera Barat memiliki dimensi ukuran 100 cm x 67 cm x 62 cm. Miniatur NEKA Bali berukuran 104 cm x 74 cm x 28 cm. Sedangkan miniatur NEKA Sulawesi Selatan berdimensi 94 cm x 44 cm x 73 cm. Tahap pengerjaan yang lama selama enam bulan dan membutuhkan ketelitian yang tinggi membuat NEKA dibanderol dengan harga cukup tinggi per play set.

Brian adalah salah satu dari 950 mahasiswa yang akan mengikuti Wisuda Periode I Tahun Akademik 2018-2019 yang akan dipimpin Rektor Ubaya Joniarto Parung, Sabtu, 23 Maret 2019, di Kampus Ubaya Tenggilis Jalan Raya Kali Rungkut.

Brian dan karyanya, NEKA, mainan bongkar pasang berbasis budaya. (Dok. Ubaya)

Karya Brian mendapat apresiasi dari dosen pembimbing tugas akhir sebagai bentuk pelestarian budaya Indonesia dengan mereplikasi rumah adat dengan skala yang lebih kecil. “Selain memiliki nilai jual, ternyata karya ini membuktikan bahwa masih ada anak muda yang peduli dengan adat di Indonesia. Biasanya generasi millenials lebih suka sesuatu yang instan seperti audio visual dengan melihat saja,” kata dosen pembimbing Brian, Guguh Sujatmiko.

Guguh berharap ada banyak lagi anak muda seperti Brian yang mau menciptakan karya bebasis adat dan budaya sebagai bagian dari cara melestarikan budaya Indonesia. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here