Halal bi Halal Lebaran: Merawat Silaturahmi dan Regenerasi

0
1301
Halal bi Halal Bani Hasan dan Bani Abdulloh di masjid pondok pesantren Darun Najah, Banyuwangi, 2 Syawal 1440 H atau 6 Juni 2019.
Advertisement

idealoka.com – Beberapa orang sibuk memasang banner di serambi masjid. Sedangkan beberapa orang lainnya menata beberapa meja untuk hidangan makanan dan minuman.

Advertisement

Waktu menjelang petang dan memasuki waktu salat magrib. Beberapa orang datang dan bergegas menuju masjid tempat pertemuan. Salat magrib jadi pembuka acara silaturahmi malam itu, 2 Syawal 1440 Hijriyah atau 6 Juni 2019.

Silaturahmi antar generasi yang sering diistilahkaan dengan halal bi halal itu rutin dilakukan setiap Lebaran atau Idul Fitri. Momen Lebaran jadi kesempatan kebanyakan masyarakat Islam di Indonesia untuk berhalal bi halal saling memaafkan, merawat persaudaraan dan solidaritas antar keluarga.

Lingkup halal bi halal keluarga ini bermacam-macam mulai dari antar keluarga yang satu generasi kakek dan nenek hingga keturunan di atas kekek dan nenek atau dalam bahasa Jawa disebut buyut. Tak hanya dalam lingkup satu buyut, forum halal bi halal bisa lebih luas lagi berupa gabungan antar buyut yang masih punya hubungan saudara.

Seperti yang dilakukan para keturunan dan penerus Bani Hasan dan Bani Abdulloh di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Halal bi halal dua keluarga tersebut menggabungkan dua keluarga besar dari dua buyut yang masih saudara.

Dari dua buyut itu lahir puluhan keluarga yang tersebar di sejumlah daerah baik Jawa Timur dan luar Jawa Timur. Hubungan persaudaraan antar keluarga tersebut masih terjaga hingga sekarang.

Halal bi halal Bani Hasan dan Bani Abdulloh rutin diselenggarakan tiap 2 Syawal atau hari kedua Lebaran di masjid pondok pesantren Darun Najah, Banyuwangi. Halal bi halal diawali dengan salat magrib berjamaah. Setelah salat dilanjutkan pembacaan surat Yasin dan tahlil. Setelah tahlil, sejumlah sesepuh menyampaikan sambutan sekaligus nasihat bagi semua generasi penerus keluarga.

Usai sambutan dan doa, semua anggota keluarga besar saling bersalaman dan berangkulan sebagai tanda saling memaafkan. Tak lupa, untuk mengabadikan momen tiap tahun itu, seluruh keluarga besar berfoto bersama mulai dari para sesepuh sampai anak-anak generasi penerus.

Dari tahun ke tahun, kegiatan tambahan atau selingan dalam halal bi halal dilakukan mulai dari kuis berhadiah hingga lomba untuk anak-anak seperti lomba mewarnai, membaca doa, dan sebagainya.

“Mari kita meneladani apa yang sudah diajarkan para sesepuh kita dan semoga anak-anak kita menjadi anak yang salih dan salihah dan berbakti pada orang tua,” kata salah satu sesepuh, KH Abdul Latif Harun, dalam halal bi halal pada 2 Syawal 1440 H atau 6 Juni 2019.

Selain mempererat hubungan persaudaraan, forum silaturahmi atau halal bi halal jadi wadah untuk berbagi informasi mulai dari pengetahuan agama, sosial, hingga masalah jodoh dan pekerjaan.

Manfaat silaturahmi tak hanya memperat persaudaraan. Menurut hadits Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan Imam Bukhori disebutkan bahwa: Barangsiapa yang suka diluaskan rejekinya dan ditangguhkan kematiannya, hendaklah ia menyambung silaturahim”.

Sebab dengan bertemu, bersalaman, berangkulan, dan saling memafkan, maka hati seseorang akan kembali bersih dan terhindar dari rasa iri, dendam, egois, dan sebagainya. Dengan sehatnya hati atau jiwa, maka sehatlah seluruh anggota badan sehingga logis orang yang gemar silaturahmi akan berusia panjang. (*)