SITUS PETIRTAAN SUMBERBEJI (1): Petirtaan Bangsawan

8
1782
Foto situs petirtaan Sumberbeji yang diambil dari atas dengan drone. (Dok. BPCB Jawa Timur)
Advertisement

Kawasan sendang atau kolam Dusun Sumberbeji, Desa Kesamben, Kecamatan Ngoro, Jombang, Jawa Timur, mendadak viral. Di dasar sendang ditemukan bangunan kuno, sebuah situs petirtaan yang terpendam.

idealoka.com (Jombang) – Tempat ini dikenal wingit atau angker. Beberapa pohon besar dan berusia tua tumbuh dan menjuntai. Rimbunnya pepohonan membuat tempat ini jarang dijamah manusia, bahkan ada yang melarang menginjakkan kaki di tempat tersebut.

Sendang Sumberbeji sebelum disedot dan digali.
Advertisement

Namun di balik rimbunnya pepohonan di lahan yang merupakan tanah kas desa ini terdapat kolam atau sendang yang berasal dari sumber atau mata air.

Sendang dengan debit air yang tak pernah berhenti ini sudah puluhan tahun bahkan ratusan atau ribuan tahun jadi penopang hidup masyarakat setempat terutama untuk irigasi pertanian.

Orang menyebutnya Sendang Sumberbeji berada di Dusun Sumberbeji, Desa Kesamben, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang, Jawa Timur.

BACA : SITUS PETIRTAAN SUMBERBEJI (2): Mitos dan Fakta di Balik Sendang Sumberbeji

Secara astronomis, lokasi sendang ini berada di koordinat 70 39’ 57,358” LU dan 1120 15’ 22,224”. Sesuai namanya, di dusun ini ada beberapa lokasi yang menandakan sumber mata air yang jernih dan bersih.

Selain di sendang, sekitar 100 meter di utara sendang juga terdapat sumur tua yang terbuat dari batu andesit. Masyarakat setempat menyebutnya sumur brumbung.

Mata air di sumur ini juga tak pernah kering dan masih digunakan masyarakat setempat termasuk jika sumur-sumur warga surut ketika kemarau. Sumur brumbung ini juga digunakan untuk air wudlu di salah satu musala di dusun setempat.

Dalam terminologi, Sumberbeji bisa diartikan sumber air suci atau sumber air dari batu. Hingga kini belum diketahui apakah mata air yang ada di Sendang Sumberbeji maupun di Sumur Brumbung memang berasal dari tanah di lokasi setempat atau berasal dari hulu mata air di tempat lain.

Sumberbeji bukan daerah pegunungan dan cukup jauh dari gunung tropis sebagai hulu mata air. Ketinggian daerah Sumberbeji hanya sekitar 82 meter di atas permukaan laut (dpl).

BACA : SITUS PETIRTAAN SUMBERBEJI (3): Peradaban Airlangga dan Kerajaan Jenggala?

Minggu, 30 Juni 2019, juru kunci Sendang Sumberbeji, Samsul Hadi, bersama para warga dusun setempat bergotong royong membersihkan mata air di sendang yang semakin tersedimentasi endapan lumpur dan tanah yang mengeras.

“Waktu itu sebagian besar sendang masih tertutup endapan tanah dan pohon yang tumbuh di tengah-tengah sendang,” kata Ketua Paguyuban Pelestarian Cagar Budaya dan Sejarah Sumberbeji, Sarif Hidayatullah, Kamis, 10 Oktober 2019.

Setelah dilakukan gotong royong untuk membersihkan mata air, terlihat ada tumpukan batu bata kuno berukuran besar menyerupai saluran air yang dalam. Temuan saluran air dari batu bata kuno ini dilaporkan ke Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur yang berkantor di Trowulan, Kabupaten Mojokerto, sekitar 20 kilometer dari lokasi Sendang Sumberbeji.

Tanggal 2 Juli 2019, tim BPCB melakukan peninjauan dan akhirnya melakukan Survei Penyelamatan (SP) selama lima hari pada 30 Juli hingga 3 Agustus 2019.

Survei penyelamatan melibatkan Pemerintah Desa Kesamben dan Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Jombang yang membantu alat berat untuk mengeruk sedimentasi tanah yang tebal dan menutup sebagian sendang.

Dalam survei penyelamatan itu ditemukan struktur batu bata kuno berupa saluran air dengan panjang 15,39 meter, lebar 1,5 meter, dan kedalaman 2 meter. Ukuran batu bata pada saluran air tersebut memiliki panjang 38 centimeter, lebar 23 centimeter, dan tebal 6 centimeter.

BACA : SITUS PETIRTAAN SUMBERBEJI (4): Arca Pancuran Garuda yang Langka

Penyusunan bangunan dari batu bata itu menggunakan teknik bata gosok atau kosot. Masing-masing bata yang terbuat dari tanah liat digosok satu sama lain hingga saling menempel atau melekat.

Pantulan foto masyarakat di permukaan air dalam parit saluran air berkelok tiga (luk telu).

Yang juga unik, arah saluran air tersebut tidak dibangun lurus melainkan berkelok (luk) sebanyak tiga kelokan atau luk telu yang membentang dari barat daya ke timur laut.

Arkeolog dan warga semakin penasaran dengan hilir atau sambungan dari parit atau saluran air yang ditemukan pertama.

BPCB Jawa Timur akhirnya melakukan proses ekskavasi atau penggalian berbasis arkeologi untuk membuka struktur bangunan lainnya yang diduga tersambung dengan saluran air.

Sekitar 4-5 pompa air dikerahkan untuk menyedot debit air yang terus mengalir dan tetap dialihkan ke saluran irigasi pertanian. Setelah dilakukan penggalian pada endapan tanah di dasar sendang ditemukan struktur bangunan dari batu bata dengan ukuran bangunan yang cukup besar dan luas.

Dari penggalian dua tahap hingga awal Oktober 2019, ditemukan setidaknya empat bagian bangunan yang semuanya menandakan sebuah area petirtaan. Empat bangunan itu antara lain saluran air sebagai hulu, dinding pembatas petirtaan, petirtaan atau pancuran utama, dan saluran tempat air keluar.

Penggalian (ekskavasi) situs petirtaan Sumberbeji.

Saluran air yang jadi penghantar atau hulu membentang sepanjang 14,1 meter dan lebar 0,69 meter. Dinding pembatas area petirtaan memiliki panjang 19,7 meter dan lebar 17,1 meter.

BACA : SITUS PETIRTAAN SUMBERBEJI (5): Jejak Kisah Pencarian Air Suci

Bangunan petirtaan atau pancuran utama berbentuk kotak dengan panjang dan lebar masing-masing 6 meter. Sedangkan saluran tempat keluar air berbentuk parit melengkung memiliki panjang sementara 11,95 meter.

Kedalaman struktur teratas dari situs petirtaan dengan permukaan tanah di bibir sendang 1,9 meter dan ketinggian atau kedalaman area petirtaan yang sudah tergali bervariasi antara 1,2 hingga 1,5 meter. Kedalaman atau ketinggian area petirtaan tersebut dimungkinkan akan bertambah seiring dengan penggalian yang belum mencapai dasar area petirtaan.

Kepala BPCB Jawa Timur Andi Muhammad Said mengatakan temuan petirtaan di dasar Sendang Sumberbeji ini unik dan penting. “Melihat kondisinya, itu bukan petirtaan biasa, (tapi) petirtaan bangsawan,” katanya, Senin, 14 Oktober 2019.

Said mengatakan BPCB masih fokus pada penyelamatan struktur bangunan situs petirtaan maupun penelusuran benda atau bagian bangunan yang terlepas dari struktur bangunan. Tim juga sedang mengkaji berbagai jenis benda, artefak, atau temuan yang masih menempel di area situs maupun benda yang terlepas dari struktur bangunan area petirtaan. “Dari situ bisa dikaji bangunan ini zaman siapa dibangun,” kata arkeolog yang akrab disapa Said ini.

Sementara itu, arkeolog BPCB Jawa Timur yang memimpin ekskavasi Situs Sumberbeji, Wicaksono Dwi Nugroho, mengatakan ekskavasi akan terus dilakukan sampai menemukan area petirtaan secara utuh.

Kesimpulan bahwa bangunan tersebut petirtaan bisa dilihat dari bentuk dan ciri-ciri bangunan serta artefak atau benda buatan manusia yang terkait dengan situs petirtaan.

BACA : SITUS PETIRTAAN SUMBERBEJI (6): Misteri Candi, Parit Luk Telu, dan Jaringan Air Tanah

Situs petirtaan Sumberbeji memilki saluran air sebagai hulu, dinding pembatas area petirtaan berbentuk persegi, pancuran utama, dan saluran air sebagai hilir. Pada bangunan pancuran utama memiliki beberapa lorong atau lubang kecil saluran air vertikal, lurus horisontal, dan diagonal atau melintang.

Lubang atau lorong kecil saluran air di situs petirtaan Sumberbeji.

Selama survei penyelamatan dan penggalian (ekskavasi) sejak Juli hingga Oktober 2019, tim BPCB dan warga yang membantu ekskavasi telah menemukan 12 arca pancuran atau saluran air (jaladwara).

Dari 12 jaladwara, sepuluh diantaranya relatif masih utuh dan dua lainnya merupakan fragmen atau pecahan dari jaladwara.

Seluruh jaladwara yang terbuat dari batu andesit itu ditemukan sudah terlepas dari struktur bangunan tempat dipasangnya jaladwara baik di pancuran utama maupun dinding pembatas area petirtaan.

Arca jaladwara yang ditemukan di situs petirtaan Sumberbeji.

Jaladwara yang ditemukan memiliki beberapa jenis motif atau ukiran seperti bunga teratai, makara, dewa atau tokoh, binatang, dan lain-lain.

Makara adalah makhluk mitologi Hindu berwujud binatang dengan bagian depan seperti gajah, buaya, atau rusa, dan memiliki ekor seperti ekor ikan atau ekor naga.

Bukti lain yang menandakan situs tersebut petirtaan yakni bekas cekungan pada bangunan pancuran utama yang terbuat dari tatanan batu bata.

“Ada cekungan-cekungan kecil di beberapa bagian petirtaan yang menandakan bekas terkikis air pancuran dalam waktu yang lama,” ujar Wicaksono, Kamis, 17 Oktober 2019.

BACA : FOTO & GRAFIS: Jejak Kisah Air Suci Abadi di Sumberbeji

Selain menemukan struktur parit atau saluran air, dinding, bangunan pancuran utama dari batu bata, dan jaladwara atau pancuran air dari batu andesit, tim BPCB dibantu warga juga menemukan artefak lain diduga ornamen atau peralatan pendukung petirtaan. Misalnya clupak dan sebuah batu pipih berbentuk belah ketupat.

Arkeolog BPCB Jawa Timur Wicaksono Dwi Nugroho menunjukkan clupak.

Clupak yang ditemukan di Sumberbeji terbuat dari batu andesit, berbeda dengan clupak yang ditemukan di Trowulan yang kebanyakan terbuat dari tanah liat atau tembikar,” kata Wicaksono.

Clupak adalah wadah seperti cobek kecil dengan satu titik mulut pembuangan. Menurutnya, clupak digunakan sebagai alat penerangan dengan menggunakan bahan bakar minyak atau getah tertentu seperti getah damar dan sabut kelapa, kapas, atau kain sebagai sumbunya.

“Ada guratan yang masih terlihat di clupak dan diduga bekas tumpahan minyak. Di titik atau mulut tempat sumbu juga tampak hitam karena hangus terbakar dalam jangka waktu yang lama,” kata Wicaksono sambil menunjukkan clupak yang disimpan di kantor BPCB Jawa Timur. (*)

Penulis & Foto: Ishomuddin

8 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here