Mengurai Tema Hardiknas 2020: Covid-19 dan Pembelajaran Era Revolusi Industri 4.0

1
163
Advertisement

idealoka.com (2 Mei 2020) – Tema Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tahun 2020 ini menggelitik sekali untuk diuraikan secara mendalam. Tema Hardiknas tersebut adalah “Belajar dari Covid-19”, sebuah tema yang singkat tapi akan menjadi banyak makna jika diuraikan.

Menguraikan makna tema tersebut menjadi semakin beragam pula jika dilakukan dengan berbagai sudut pandang dalam menganalisisnya. Tidak salah pula jika ada yang menyatakan tema tersebut tidak lebih dari ‘miskin ide’ sang pembuat tema karena kecerdasannya tenggelam oleh badai Covid-19. Berangkat dari tema yang dilihat penulis penuh makna itulah tulisan ringan ini mulai dirangkai.

Advertisement

Melihat logo Hardiknas 2020 konon katanya dibentuk dari tiga elemen yaitu bintang, keceriaan, dan pena. Ketiga elemen tersebut masing-masing mempunyai makna yang menggelegar. Bintang menggambarkan semangat hardiknas 2020 untuk melahirkan generasi Indonesia yang unggul, cerdas, dan berkarakter. Dengan garis luwes menggambarkan semangat adaptif dan tangguh menghadapi perubahan zaman yang semakin dinamis.

Keceriaan menggambarkan suasana pendidikan Indonesia yang menggembirakan, gotong royong, serta partisipasi publik. Pena menggambarkan proses pendidikan sebagai proses penciptaan karya yang memerlukan perpaduan holistik antara kemampuan intelektual, emosional, dan spiritual. Gambaran logo tersebut juga diklaim selaras dengan cita-cita bapak pendidikan Indonesia, Ki Hadjar Dewantoro, yang kelahirannya menjadi dasar peringatan Hardiknas. Lantas bagaimana menggali makna dari tema Hardiknas?

Badai Covid-19 yang tengah menjadi masalah global ini tentu saja berdampak pada segala bidang kehidupan, tak terkecuali jantung pembangunan peradaban sebuah bangsa yaitu pendidikan. Di dalam dunia pendidikan, beragam fenomena terlihat mulai dari kegalauan anak kecil usia sekolah yang selama ini terbelenggu tugas-tugas sekolah menjadi sebuah kebahagiaan maksimal karena bisa bermain di rumah.

Meskipun anjuran bertubi-tubi dari siapapun berbunyi belajar dari rumah, maka bendera yang dikibarkan tetaplah bermain dari rumah.  Kelulusan peserta didik SMK yang bertepatan pada Hardiknas tahun ini diumumkan tentu saja sudah menjadi sesuatu yang jauh dari kata was-was lagi. Meskipun tanpa himbauan untuk tidak konvoi kelulusan kiranya peserta didik SMK tetap akan di rumah saja, semuanya karena sudah sadar diri ketuntasan belajarnya karena ‘berkah’ Corona.

Kembali pada makna dibalik tema Hardiknas, penulis melihat ada makna yang mendalam dari tema tersebut. Fenomena pergeseran paradigma pembelajaran dengan platform digital dan sesuai napas program merdeka belajar Kemdikbud menarik untuk dicermati. Anjuran bagi guru untuk tetap Work Form Home (WFH) atau Bekerja Dari Rumah (BDR) pada akhirnya memaksa guru semua jenjang pendidikan untuk memanfatkan teknologi dengan beragam aplikasinya.

Pencapaian kurikulum era pandemi Covid-19 dengan tetap melaksanakan pembelajaran model dalam jaringan (daring) merupakan manifestasi pembelajaran abad 21 yang linier dengan era revolusi industri 4.0.

Dari level termudah dengan pemanfaatan WhatsApp untuk membuat ruang-ruang kelas maya hingga pemanfaatan aplikasi-aplikasi berbasis teknologi seperti google form, google sites, zoom meeting, cisco webex, dan berbagai aplikasi lainnya. Menariknya, semua pembelajaran tersebut menjadi kemerdekaan belajar yang begitu menyentuh generasi layar sentuh sambil rebahan.

Pandemi Covid-19 yang awalnya menjadi ketakutan yang luar biasa dengan gagalnya pencapaian kurikulum ternyata menjadi tren baru dalam kegiatan pembelajaran yang menyenangkan. Seiring dengan fenomena tersebut, banyak sekali lembaga-lembaga pemerintah dan organisasi profesi mengalihkan model diklat bagi peningkatan kompetensi guru yang awalnya harus dikumpulkan pada suatu tempat pelatihan dengan waktu beberapa hari, namun era pandemi Covid-19 ini semuanya kompak menjalankannya dengan sistem daring.

Diklat peningkatan kompetensi guru yang dilakukan secara daring oleh PGRI Bondowoso, 22-29 April 2020. Foto: PGRI Bondowoso

Dari sini tentunya terlihat bagaimana efektifnya sebuah kegiatan pelatihan dengan dapat menekan anggaran kegiatan yang begitu besar menjadi murah meriah tanpa menanggalkan kualitas. Lantas bagaimana pengembangan pendidikan era covid-19 yang ternyata sesuai dengan napas revolusi industri 4.0?

Pengembangan pendidikan seperti tersebut di atas bisa dilakukan gerakan kolektif dengan beberapa langkah cerdas seperti berikut. Pertama, komitmen melakukan pergeseran paradigma pendidikan heutagogik.

Seperti yang disampaikan Steward Hase dan Chris Kenyon (2013) bahwa “the essence of heutagogy is that in some learning situations, the focuse should be on what and how the learner wants to learn, not on what is to be taught”, dimana heutagogi memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menentukan pilihan secara bebas tentang apa yang akan dipelajari dan bagaimana mempelajarinya.

Di dalam pembelajaran heutagogi, peserta didik ditekankan pada kemandirian belajar dalam kebebasan melesat berpikirnya dan pada akhirnya ketergantungannya kepada gurunya semakin berkurang.

Kedua, revitalisasi kurikulum satuan pendidikan yang benar-benar bernapaskan pencapaian kompetensi pendidikan era revolusi industri 4.0 seperti; berpikir kritis, kreativitas, inovasi, komunikasi, dan kolaborasi. Selain itu, juga dikuatkan pada kemampuan literasi digital, big data, penguasaan bahasa Inggris, dan benteng iman-takwa. Peserta didik era revolusi industri harus benar-benar dijauhkan dengan kelas-kelas teori yang menjemukan laksana penjara pendidikan penuh keterasingan.

Sebaliknya, peserta didik harus diciptakan menjadi generasi yang menurut Antonio Gramsci memunyai intelektual organik. Intelektual organik merupakan intelektual yang mampu menjawab semua problematika masyarakat sekitarnya. Sehingga, para generasi penerus bangsa tersebut mampu memecahkan semua masalahnya sendiri dengan baik, memecahkan masalah orang lain dan masyarakatnya, serta puncaknya mampu melawan kecerdasan otomatisasi mesin.

Ketiga, perubahan paradigma pendidik. Pendidik harus menyadari sepenuhnya bahwa pembelajaran era revolusi industri 4.0 itu sangat berbeda dengan rutinitas yang biasa dilakukan sebelumnya. Pendidik harus menjadi inspirator yang baik bagi peserta didik, harus menjadi partner belajar yang menyenangkan, harus mampu menjadi agen pembelajaran, teknokrat, kolaborator, dan ilmuwan yang demokratis.

Demokratis yang dimaksud adalah selalu terbuka dengan segala bentuk kreativitas dan inovasi peserta didik yang penuh dengan kebebasan berpikir. Pendidik harus memberikan ruang yang seluas-luasnya kepada para peserta didik untuk menuangkan segala bentuk ide-ide ‘liarnya’.

Dari ketiga langkah pengembangan pendidikan tersebut di atas, catatan penting yang harus dilakukan oleh guru adalah bagaimana tetap memberikan penguatan pendidikan karakter kepada peserta didik dalam pembelajaran.

Akan tidak akan berguna jika generasi penerus bangsa ini menjadi pribadi yang berkualitas tinggi dan mampu mengalahkan mesin, namun tidak mempunyai karakter yang baik. Pendidikan karakter akan menjadi modal sangat penting bagi semua peserta didik agar setiap langkah yang dilakukan pada masa depan berdampak positif dalam pembangunan peradaban bangsa Indonesia.

Tema Hardiknas “Belajar dari Covid-19” bagi penulis adalah tema yang cerdas untuk menjadi pemantik yang dahsyat bagi kalangan pelaku dan pecinta pendidikan untuk bangkit dari keterpurukan. Keterpurukan di sini yang dimaksud adalah ancaman keterpurukan dunia pendidikan di tengah kuatnya badai pandemi Covid-19 yang tak kunjung usai.

Yakinlah, badai pasti akan berlalu, namun di tengah badai itu ada sekian banyak pelajaran berharga yang dapat dijadikan momentum kebangkitan kesadaran kolektif membangun bangsa Indonesia melalui pendidikan.

Belajar dari Covid-19 ini hendaklah kita khususnya sebagai pendidik yang terpenting harus mampu melakukan perubahan paradigma. Industri 4.0 sangat membutuhkan sumber daya manusia yang mampu menjawab tantangan pekerjaan masa depan. Detik ini tidak saja dibutuhkan SDM yang kompeten pada sisi kecerdasan intelektual (IQ) saja, melainkan juga kecerdasan emosional (EQ).

Bagaimanapun, di balik penemuan mesin dan aplikasi canggih, ada manusia yang menemukan dan menjalankannya. Akhirnya, marilah kita mendidik, mengajar, dan menghantarkan peserta didik kita dengan paradigma pembelajaran revolusi industri 4.0 demi terciptanya generasi emas masa depan. (*)

Penulis: Indah Mei Astuti, S.S, M.Pd (Guru Bahasa Inggris SMK PPN 1 Tegalampel, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur)

 

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here