Cegah Covid, Belanja Sayuran Online dan Barang Digantung di Pagar

0
34
CEGAH COVID. Sayuran pesanan warga Perum Permata Bintaro, Tangerang Selatan, digantung di pagar rumah. Sejak pandemi Covid, warga pesan belanja secara online dan barang digantung di pagar untuk menghindari penyebaran Covid-19.
Advertisement

idealoka.com (Jakarta) – Wabah Covid-19 telah mengubah perilaku dan pola hidup warga termasuk di kawasan Jabodetabek. Penggunaan teknologi komunikasi jadi salah satu penunjang bagi masyarakat untuk menjaga jarak, berkomunikasi, dan bertransaksi untuk menghindari pertemuan dengan orang lain.

Hal ini terpaksa sering dilakukan untuk mencegah penularan Covid-19 antar manusia. Perubahan perilaku dan pola hidup itu terjadi di semua aspek kehidupan, termasuk bagi ibu rumah tangga.

Advertisement

Seperti yang dilakukan para warga di kawasan Perumahan Permata Bintaro Sektor 9, Kota Tangerang Selatan. Rata-rata warga berbelanja secara online termasuk belanja sayuran dan lauk pauk.

Sebelum pandemi Covid-19, sejumlah pedagang sayuran dan lauk pauk biasanya berkeliling ke rumah-rumah dan warga bertatap muka langsung untuk belanja. Namun pemandangan itu kini telah berubah.

BACA : Cegah Covid-19, Operasikan Smartphone dengan Sensor Gerak Tangan

“Sejak pandemi Covid-19 awal Maret lalu saya sering pesan sayuran dan lauk pauk melalui WA (WhatsApp) ke tukang sayuran yang biasanya keliling perumahan,” kata salah satu warga Perumahan Permata Bintaro Sektor 9, Nuhbatul Fakhiroh, 50 tahun, Sabtu, 21 November 2020.

Menurut ibu dengan tiga anak ini, malam sebelumnya ia sudah memesan sayuran dan lauk pauk yang dibutuhkan ke pedagang. “Malam saya WA apa saja yang dipesan, paginya sudah diantar ke rumah,” katanya.

Bahkan untuk menghindari tatap muka dengan pedagang sayuran, ia meminta pedagang menaruh  atau menggantung tas plastik berisi barang belanjaan di pagar rumah. “Setelah ditaruh di pagar nanti saya ambil dan dicuci bersih,”katanya.

Untuk pembayarannya, ia mentransfer uang ke rekening pedagang. “Biasanya saya titip uang Rp300-500 ribu untuk beberapa kali belanja, biar enggak bolak balik transfer. Nanti tinggal totalan habis berapa atau kurang berapa,” katanya.

Sejak pandemi Covid-19, ia juga lebih sering memasak atau membuat kue di rumah dibantu anak-anaknya. “Sekalian anak-anak belajar memasak atau membuat kue,” ujarnya.

Namun jika memang bosan makan di rumah dan ingin makan bersama keluarga di luar, ia tetap selektif. “Kami selektif memilih resto, tentunya yang aman dan disiplin menerapkan protokol kesehatan,” tuturnya.

BACA : Cegah Covid-19, Dinas Perdagangan Kabupaten Kediri Jaga Jarak Lapak Pedagang Pasar

Kebiasaan baru sebagai bagian dari penerapan protokol kesehatan juga dilakukan Reza Firdausi, 39 tahun, seorang konsultan Informasi dan Teknologi (IT) yang bekerja di Jakarta dan sekitarnya.

Menurutnya, ada berkah di balik pandemi Covid-19. “Saya lebih banyak di rumah berkumpul dengan keluarga,” katanya. Karena ia lebih banyak berkomunikasi dengan manajemen perusahaan tempat bekerja atau rekan kerja secara virtual dari rumah.

Namun, sebagai konsultan IT, ada pekerjaan yang memang harus dilakukan di tempat klien atau pelanggan. “Kalau pas ada kebutuhan ke customer (pelanggan) harus on site (datang ke lokasi) ke customer juga, enggak selalu WFH (Work From Home),” kata pria lulusan Universitas Budi Luhur, Jakarta Selatan ini.

Jika terpaksa datang ke tempat konsumen atau pelanggan, ia tetap menerapkan protokol kesehatan seperti memakai masker dan menggunakan hand sanitizer. “Hand sanitizer saya selalu bawa ke mana-mana dan tetap pakai masker,” katanya. (*)