Menkeu Harap Pandemi Covid-19 Momentum Reformasi Digital Pendidikan

Advertisement

idealoka.com (Jakarta) – Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengatakan kebijakan pemerintah yang sifatnya bantuan kepada masyarakat selalu dihadapkan dengan data dan sistem yang belum sempurna.

Selain bantuan sosial, kebijakan pemberian paket data internet kepada siswa, mahasiswa, dan pengajar juga dihadapkan pada masalah basis data yang sama. Namun demikian, pemerintah tetap melakukan kebijakan tersebut dengan terus menyempurnakan data yang ada.

Advertisement

“Artinya, kita melakukan tapi sambil perbaiki dan terus kita melakukan pemihakan tadi. Caranya gimana mengurangi risiko bocor, salah target dan lain-lain. Ya, kita transparan saja, ini lho yang mau kita kasih, ini lho targetnya. Kalau ternyata salah, ya kita akan perbaiki,” kata Sro pada acara Cerita di Kemenkeu Mengajar secara online, Senin, 26 Oktober 2020.

BACA : Partisipasi Publik dalam Peningkatan Pelayanan Pendidikan

Menurut Sri, momentum pandemi Covid-19 yang memaksa perubahan cara hidup masyarakat harus dapat dimanfaatkan untuk mereformasi di semua hal. Justru pada saat krisis, reformasi dapat diakselerasi pada sektor pendidikan, kesehatan, bantuan sosial, dan belanja pemerintah.

“Kita tidak boleh membiarkan krisis itu begitu saja lewat, tapi kita harus memanfaatkan krisis. Jadi, menggunakan krisis untuk mereform sekaligus. Jadi, saya senang, Mas Nadiem bilang kita sudah mau mereform pendidikan,” ujarnya.

Sri mengkhawatirkan reformasi digital di bidang pendidikan tidak dapat dilakukan sepenuhnya karena kesenjangan digital yang masih terasa di Indonesia. Untuk itu, pemerintah meningkatkan anggaran pembangunan infrastruktur di teknologi informasi dan komunikasi dalam APBN 2021.

“Makanya pemerintah mengejar, kita naikkan anggaran untuk IT dan untuk infrastruktur TIK kita. Tahun depan Rp30 triliun dari mulai satelit sampai fiber optik kemudian BTS itu berbagai macam tower untuk bisa menghubungkan sebanyak 5.000 lokasi lebih,” katanya.

Menkeu berharap 20 persen dari APBN setiap tahun untuk pendidikan dapat terpakai untuk melakukan reformasi dan hal-hal yang inovatif sehingga anak-anak Indonesia memiliki kesempatan dan kualitas pendidikan yang sama. Sri mengapresiasi masyarakat yang berinisiatif dalam bidang pendidikan dan menjadi partner yang baik bagi pemerintah.

BACA : Mengurai Tema Hardiknas 2020: Covid-19 dan Pembelajaran Era Revolusi Industri 4.0

“Saya menganggap keinginan untuk membagi ilmu dan dengan teknologi dan dengan pemihakan pemerintah dengan dana yang besar itu bisa menjadi sinergi yang bagus banget untuk mencari dan berinovasi di bidang pendidikan kita,” katanya.

Dalam acara yang juga diisi diskusi dengan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim, tokoh pendidik Najelaa Shihab, dan pemain film Dian Sastrowardoyo, Sri menceritakan bagaimana dulu orang tuanya mendidik dan kebiasaan membawa buku sampai sekarang.

“Kita juga diminta untuk aktif di ekstrakurikuler. Jadi tidak hanya harus bagus nilainya A, enggak juga. Jadi, saya ngikutin OSIS, saya ikut voli, karate, basket, Pramuka, paduan suara, semuanya saya ikuti. Itu supaya kayaknya orang tua saya khawatir kalau anak-anak remaja pastinya energinya banyak, jadi takut dia masuk ke aktivitas yang enggakenggak aja,” ucapnya. (*)